Farah's TOP 11 Reads for 2021

Yuk intip daftar 11 (+2) buku berkesan yang aku baca pada tahun 2021! 📚

Setelah sempat tergeser oleh nonfiksi dalam daftar terdahulu, buku fiksi kembali mengambil tempat dalam daftar Top 11 Reads 2021. Nonfiksi tidak sepenuhnya lenyap tentu saja. Memoar dan buku kumpulan esai sepertinya dengan setia masih akan menjadi perwakilan untuk buku nonfiksi dalam daftar tahunan ini, setidaknya untuk beberapa tahun mendatang.

2021 juga menandai kembalinya bacaan fiksi yang sudah menjadi makanan pokok-ku sebagai pembaca selama beberapa tahun: fiksi bittersweet dan agak mellow. Era buku fiksi lucu & heart-warming yang sempat mampir pada tahun 2020 akhirnya tutup buku.

Kamu juga bisa mengeksplor daftar Top 11 Reads-ku selama empat tahun terakhir (2020 | 2019 | 2018 | 2017), sebelum membaca daftar terbaru di bawah. Berikut 11 buku berkesan yang aku baca tahun lalu diurut berdasarkan kronologi waktu baca alih-alih ranking:

1. Kitchen (Banana Yoshimoto, ENG Translator: Megan Bachus)

Melalui 2 novella dalam Kitchen, Banana Yoshimoto mengeksplor bagaimana manusia berdamai dengan kenyataan tak terhindarkan dalam hidup: duka dan kematian. Yoshimoto juga menggali tentang rasa sepi yang muncul bersamaan dengan realita ini. Ekplorasi duka yang dilakukan dalam Kitchen begitu berkesan buatku karena selain mengeksplor duka kehilangan orang tercinta, Yoshimoto juga mengeksplor duka yang muncul dari kehilangan jati diri atau impianmu.

Kalau mencari bacaan singkat, bittersweet, tapi pada akhirnya masih penuh rasa harap, Kitchen bisa menjadi bacaan yang tepat.

Kitchen dalam 2 tulisan lain: Ulasan emosionalku di StoryGraph | Monthly Reading List: Maret 2021

2. Honey Girl (Morgan Rogers)

Novel debut ini bisa jadi bukan bacaan untuk semua orang. Akan tetapi, sebagai pembaca berusia 20-an yang sedang dalam proses menemukan jalan sendiri dalam hidup, Honey Girl adalah bacaan yang begitu relatable. Selain menulis tentang rasa cemas yang datang karena ketidakpastian di awal adulthood, Rogers juga menulis tentang dinamika support system yang penting untuk kita miliki: keluarga & pertemanan. Honey Girls juga tidak malu-malu dalam membahas tantangan yang muncul dalam wujud kesehatan mental.

Cocok untuk yang mencari bacaan coming-of-age dengan protagonis yang sudah menginjak adulthood dan masih berusaha menemukan tempatnya dalam hidup.

Honey Girl dalam 3 tulisan lain: Ulasan panjang blog | Monthly Reading List: Maret 2021 | Ulasan bahasa Inggris di StoryGraph

3. In The Dream House (Carmen Maria Machado)

Selain menjadi buku nonfiksi/memoar pertama dalam daftar, In Dream House juga menjadi buku pertama yang aku baca dalam sekali duduk pada tahun 2021. Dalam memoar menghantui ini, Machado menggunakan beragam literary device atau trope (seperti haunted house atau roadtrip stories) untuk berbagi pengalaman personalnya ketika berada dalam hubungan romantis yang toksik. Bukan sekadar merupakan arsip penting realita & pengalaman manusia, In Dream House juga merupakan eksperimen dalam cara dan gaya penulisan.

Aku akan merekomendasikan memoar In Dream House untuk pembaca yang mencari bacaan eksperimental dengan format unik, yang juga mengeksplor salah satu sisi dalam queer relationship yang belum terlalu banyak digali.

In Dream House dalam 1 tulisan lain: Monthly Reading List: Maret 2021

4. The Beautiful Ones (Silvia Moreno-Garcia)

Tidak hanya berjasa mempertemukanku dengan buku-buku Silvia Federici, booktuber Lou Reading Things juga berjasa dalam mengenalkanku pada buku historical romance yang akhirnya menjadi favorit ini:

 

The Beautiful Ones adalah bacaan yang tepat kalau kamu murni mencari bacaan escapism dramatis yang saking over-the-top-nya mengingatkanmu pada telenovela yang begitu nagih untuk ditonton. Meskipun merasa akhir ceritanya agak anti-klimaks, pengalaman membaca The Beautiful Ones adalah salah satu pengalaman baca paling menyenangkan buatku pada tahun 2021 lalu.

5. The Death of Vivek Oji (Akwaeke Emezi)

 

Satu lagi judul yang begitu berkesan karena pengalaman yang kita lalui bersamanya. Pembaca sudah tahu apa yang akan terjadi pada protagonis cerita, the title says it all. Meskipun begitu, perjalanan yang pembaca telusuri supaya sampai ke titik dimana kematian Vivek Oji terjadi tetap terasa memuaskan. Selain merupakan cerita tentang keluarga, The Death of Vivek Oji juga merupakan cerita tentang pertemanan, tentang cinta dan harapan, serta duka dan pengampunan.

Di pusatnya, cerita Vivek adalah cerita tentang bagaimana orang tua tidak akan pernah benar-benar tahu dengan pasti segala hal tentang buah hatinya.

Aku akan merekomendasikan The Death of Vivek Oji untuk yang suka membaca cerita bittersweet tentang dinamika keluarga. Aku membaca edisi audiobook fenomenal bukunya melalui Scribd.

6. Macondo, Para Raksasa, dan Lain-Lain Hal (Ronny Agustinus)

Buku kumpulan esai ini begitu berjasa dalam mengobarkan semangatku untuk mulai belajar Bahasa Spanyol di paruh akhir 2021. Targetku memang ingin memiliki kemampuan untuk membaca tulisan bahasa Spanyol dengan lancar. Bukan hanya informatif, Macondo, Para Raksasa, dan Lain-Lain Hal juga menawarkan esai yang ramah pembaca awam, tidak peduli kamu berminat pada sastra Amerika Latin atau tidak.

Buku yang cocok sebagai bacaan awal bagi yang tertarik dengan sastra Amerika Latin atau hanya sekadar ingin mendapat perkenalan tentang bagaimana kondisi sosial/budaya Amerika Latin memiliki pengaruh signifikan pada perkembangan sastra di sana.

Macondo, Para Raksasa, dan Lain-Lain Hal dalam 1 tulisan lain: Ulasan panjang di StoryGraph.

7. A Mind Spread Out on the Ground (Alicia Elliott)


Berdampingan dengan In The Dream House, memoar dalam bentuk kumpulan esai ini merupakan 2 memoar paling berkesan yang aku baca di tahun 2021. Aku harus berterima kasih pada The StoryGraph Genre Challenge yang sudah mempertemukan aku dengannya.

Kesehatan mental & kolonialisme merupakan dua tema besar dalam memoar heart breaking ini. Alicia Elliott dengan lihai bercerita tentang pengalamannya tumbuh besar di keluarga biracial (white/native american) & menghubungkan anekdot personal dia dengan 2 tema besar tersebut. Bagaimana kolonialisme & opresi terhadap masyarakat indigenous (secara spesifik native american) punya andil besar terhadap masalah kesehatan mental yang berkembang secara generasional dalam komunitas itu.

Sebuah bacaan menantang dan begitu menguras emosi, tapi penting dan worth it untuk dibaca. Aku sangat merekomendasikan A Mind Spread Out on the Ground untuk para penggemar memoar yang tertarik dengan ekplorasi tentang kesehatan mental. Edisi audiobook yang sangat memorable juga bisa kamu dengar di Scribd.

8. In The Country (Mia Alvar)


Beberapa minggu setelah sadar kalau aku belum menemukan kumcer favorit karya penulis luar negeri (kecuali Poe), aku langsung dipertemukan dengan In The Country (terima kasih kepada fitur rekomendasi StoryGraph & ajang Big Bad Wolf online). Tanpa perlu membaca banyak, buku debut Mia Alvar ini langsung meninggalkan kesan dalam setelah aku membaca 2 cerpen pembukanya.

Dalam In The Country, Mia Alvar mengeksplor beragam pengalaman Filipino diaspora dengan latar cerita yang terbentang dari New York sampai Arab Saudi. Terlepas dari segala perbedaan & hal baru yang aku baca dalam cerpen-cerpennya, ada aspek cerita yang (secara tidak terduga) begitu familiar untuk sesama penghuni negara di bawah naungan ASEAN. Tidak mengherankan kalau bukunya begitu mengena.

Aku akan merekomendasikan In The Country kalau kamu mencari buku kumpulan cerpen panjang dengan gaya penulisan yang begitu mengalir dan sulit untuk ditinggalkan.

9. Dress Codes: How the Laws of Fashion Made History (Richard Thompson Ford)

Setelah kesulitan menemukan nonfiksi tentang sejarah dengan gaya bahasa yang tidak "kering", Dress Codes muncul dan membuktikan kalau buku nonfiksi yang ditulis dengan gaya bahasa menyenangkan itu ada! Dalam buku yang hampir 500 halaman ini, Ford melacak bagaimana baju & cara berpakaian memegang peran sentral dalam mengukuhkan kedudukan sosial suatu kelompok/keluarga dalam masyarakat.

Selain merekomendasikan Dress Codes untuk penggemar bacaan sejarah, Dress Codes juga cocok kalau kamu tertarik mencoba bacaan bertema hukum yang terbilang ringan.

Dress Codes dalam 1 tulisan lain: Monthly Reading List November 2021

10. Hamnet (Maggie O'Farrell)


Mengikuti jejak Maybe You Should Talk to Someone dari tahun lalu, Hamnet menjadi bacaan penghujung tahun yang langsung melejit ke dalam daftar Top 11-ku. Meskipun sering melirik buku-buku literary fiction, genre ini ternyata tidak terlalu sering aku jamah tahun lalu.

Dalam novel bersampul cantik ini, Maggie O'Farrell membawa kita untuk mengikuti narasi fiksional tentang sejarah awal keluarga William Shakespeare. Alih-alih fokus pada THE Shakespeare sendiri, Hamnet fokus pada figur ibu dalam keluarga kecil ini, Agnes (juga dikenal sebagai Anne Hathaway). Satu lagi cerita tentang keluarga, rasa kehilangan, dan duka.

Aku akan merekomendasikan Hamnet untuk penggemar cerita tentang dinamika keluarga dengan gaya penulisan indah & menghanyutkan.

Ulasan Hamnet selengkap dariku bisa dibaca di StoryGraph.

11. Kereta 4.50 Dari Paddington (Agatha Christie, Penerjemah IND: Lily Wibisono)


Maraton baca buku Agatha Christie-ku selama 1 tahun terakhir boleh dikatakan datar-datar saja. Tidak peduli tentang Poirot, Marple, Parker Payne, atau Mr. Shatterwhite, aku tidak kunjung menemukan judul yang memorable. Sampai aku menjadikan Kereta 4.50 Dari Paddington sebagai bacaan penutup 2021... Aku akhirnya menemukan buku Miss Marple favorit!

Bacaan satu ini begitu berkesan karena walaupun merupakan kasus Miss Marple, di akhir hari Kereta 4.50 Dari Paddington adalah buku dengan ensemble cast  yang saling bahu-membahu untuk memecahkan misteri dengan berbagai twist asyik yang tidak aku sangka-sangka kemunculannya.

Mengingat ini adalah satu-satunya buku Agatha Christie yang aku tamatkan dalam kurun waktu satu hari saking penasarannya, Kereta 4.50 Dari Paddington pantas masuk ke dalam daftar Top 11 Reads 2021.

Honorable Mention

1. Twas the Nightshift Before Christmas (Adam Kay)

Setelah memoar debut Adam Kay masuk ke dalam daftar Top 11 Reads tahun 2019, aku tidak terlalu kaget ketika buku singkat edisi christmas special ini muncul dalam daftar Top 11 Reads lagi. Catatan harian dari masa lalu Kay sebagai dokter OBYN di NHS selalu berhasil menghiburku berkat ke-absurd-an anekdotnya & kelihaian Kay dalam menuliskan cerita-cerita ini dengan sangat on-point dan lucu.

Aku sangat merekomendasikan tulisan-tulisan Adam Kay untuk yang suka dengan bacaan yang berhasil memadukan aspek lucu dan miris kehidupan dengan sangat baik.

Baca juga: Ulasan panjangku tentang memoar Adam Kay, This Is Going to Hurt

2. The Majesties (Tiffany Tsao)

Aku tidak heran kalau pembaca thriller yang terbiasa dengan bacaan bertensi tinggi akan kaget ketika membaca The Majesties. Alih-alih thriller bertensi tinggi penuh twist, buku ini adalah eksplorasi lambat tentang kejatuhan sebuah keluarga yang ruthless kepada siapa saja (bahkan anggota mereka sendiri), atas nama survival.

Bacaan yang cocok untuk yang mencari bacaan thriller beda yang fokusnya tidak lepas dari dinamika keluarga. Aku juga sangat merekomendasikan edisi audiobook The Majesties (dinarasikan oleh Nancy Wu). Edisi ini begitu immersive, aku sampai rela begadang supaya bisa mendengar kisah Gwendolyn dan Estella sampai akhir.

Ulasan singkatku tentang The Majesties juga bisa dibaca di StoryGraph.


Terima kasih sudah membaca tulisan ini sampai akhir!
Aku juga penasaran ingin mendengar bacaan favoritmu dari tahun 2021 di kolom komentar 😃⏬

>>>

Terhibur/terbantu dengan tulisan ini? Traktir Farah melalui Karyakarsa

Farah melacak bacaannya di situs buku alternatif  The StoryGraph

Ingin tanya-tanya anonim? Kirim saja pertanyaanmu lewat Curious Cat

Share:

8 komentar :

  1. Yuhuuu Mba Farah aku baru tau The Majesties termasuk novel thriller 👀, cover buku nya mengingatkanku dengan salah satu novelis lokal Ruwi meita dgn judul Rumah Lebah. Perpaduan warna cerah tapi ada vibes ganjil pada covernya. Alur lambat nya gimana nih Mba? Apa mirip dengan The good son yg khas karena narasi panjangnya 👀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa 😄 Cover buku ini selain menarik mata buat kita penasaran juga ya.

      Maksud alur lambat di sini itu lebih ke bagaimana cerita dalam The Majesties fokusnya adalah character study alih-alih ke plot fast-paced/mengejutkan seperti kebanyakan thriller, Reka. Ada banyak flashback & kita kurang lebih mengikuti sejarah kelam sebuah keluarga. Jadi kalau ekspektasi awal pembaca mengharapkan thriller penuh plot twist ala thriller Barat, mungkin akan kecewa nanti...

      Hapus
  2. Wah Faraahh banyak banget rekomendasi buku buat aku nih. Masa di antara semua buku di sini nggak ada yang udah pernah aku baca 😄 Aku jadi penasaran sama Twas the Nightshift before Christmas, Dress Codes, sama mungkin Honey Girl... Banyak banget yang suka soal buku ini kayanya lama-lama aku bakal tergoda wkwk.

    Aku pernah juga loh baca nonfiksi sejarah judulnya The Dirt on Clean, sejarah soal mandi (mostly di Eropa sih) kaya jaman dulu orang-orang tuh sebenernya jorok banget dan cuma ganti baju doang dan cuci muka. Menarik banget tuhh kalo Farah nyari nonfiksi sejarah lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku selalu mencari rekomendasi buku nonfiksi sejarah Anin hehe. Jadi The Dirt on Clean resmi masuk TBR 👀 Thank you rekomendasinya!

      Semoga nanti kalau kamu jadi baca Honey Girl bukunya cocok ya. Aku intip-intip, gaya penulisan Honey Girl kurang sreg buat beberapa pembaca. Buatku karena tema bukunya ngena, gaya tulisan yang kadang agak berbunga-bunga masih oke sih.

      TtNbC sendiri cocok kalau kamu sedang mood baca memoar singkat. Kalau Dress Codes lumayan padat info sebenarnya, meskipun gaya tulisannya asyik saranku baca ini lambat-lambat aja supaya bisa menikmati secara maksimal 😄

      Hapus
  3. Satu-satunya novel yang sudah kubaca di list atas cuma Banana :D.

    Buku bacaan kak Farah sering bikin aku ikut penasaran ingin baca juga. Apalagi buku pilihannya termasuk dari beragam tema. Jadi, enggak ngebosenin buat diikutin ulasannya kak Farah ini.

    Terus, ini aku jadi kepikiran, iya juga ya, selama 2021 aku belum nulis beberapa novel favorit atau apalah-apalah ala 2021 gitu. Kayaknya aku bakalan bikin juga nih, terinspirasi dari tulisan kak Farah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeay!! Ditunggu tulisannya Kak Ipeh 👀 Farah kepo & selalu ingin menambah variasi bacaan di TBR hehehe.

      Karena anaknya moody dan suka random, tema bacaan Farah memang beragam banget variasinya di akhir tahun 😂

      Hapus
  4. Mantep banget kak Farah. Aku penasaran sama Kitchen, katanya udah ada versi terjemahannya ya. Jadi makin penasaran pengin baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Ila! Sampul edisi terjemahannya juga bagus 😄

      Hapus

Halo! Tidak perlu segan atau ragu kalau ingin meninggalkan komentar ya. Aku tidak pernah bosan mencari rekomendasi buku baru dan teman diskusi. Aktifkan notify me/beritahu saya supaya kamu tahu ketika komentarmu dibalas. Aku selalu senang ketika kita bercakap-cakap tentang buku dan kegiatan baca-membaca 😄

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes