Maret 2021: Bulan Penulis Perempuan

Satu bulan penuh dengan buku misteri dan karya penulis perempuan.

Mengingat 8 Maret merupakan hari perempuan internasional, aku memutuskan untuk fokus pada buku karya penulis perempuan dari beberapa genre sepanjang bulan ini. Dari buku misteri, horror, alternate history sampai memoar dan kumpulan essai, berikut statistik bacaanku di bulan Maret 2021 menurut The StoryGraph:

Statistik Menunjukkan...


Setelah santai sekali di bulan Februari, di penghujung Maret aku tercatat sudah menyelesaikan 9 buku (1.923 halaman). Bagiku ini adalah rekor pribadi. Kesembilan buku ini terdiri dari tiga buku fisik, empat buku digital, dan dua audiobook. Buku fisik (tentunya) adalah buku-buku lama yang sudah nongkrong di rak buku selama beberapa bulan. Buku Agatha Christie & buku nonfiksi yang aku beli tahun lalu contohnya. Buku digital sendiri aku baca melalui iPusnas dan Scribd (yang juga merupakan tempatku menemukan audiobook).

Mood misterius mendominasi mood bacaan kali ini karena aku membaca tiga buku misteri pembunuhan dan satu buku horor bernuansa misterius di bulan Maret. Melihat mood reflektif dan emosional bergeser dari tempat mereka yang biasanya di dua besar mengejutkan juga. Moody reader, am I right?


Ketika berhasil menyelesaikan 9 buku dalam satu bulan, tentu tidak mengherankan kalau sebagian besar buku ini adalah buku yang <300 halaman. Dua buku dalam rentang 300-499 halaman sendiri adalah buku misteri beralur cepat. Satu-satunya buku yang memang lambat (setidaknya buatku) adalah buku kumpulan esai karya Jia Tolentino yang sudah aku baca sejak akhir Januari lalu dan baru selesai di pertengahan Maret ini. Aku menyambut kemunculan buku beralur lambat dalam statistik karena aku merasa attention-span-ku dalam membaca setidaknya sudah berkembang daripada tahun lalu.


Seperti yang sudah aku tulis dalam kiriman minggu lalu, rasio bacaanku yang 75:25 untuk fiksi & nonfiksi sangat tercermin dalam statistik bulan Maret ini. Statistik untuk genre sendiri juga mencerminkan tulisan kemarin (setidaknya peringkat dua teratas). Genre klasik akhirnya muncul kembali dalam statistik karena genre ini adalah salah satu genre yang ingin aku eksplor lebih jauh, namun sayangnya belum tercapai karena belum ada waktu & energi yang cukup. Aku juga tidak sabar ingin membaca lebih banyak memoar & buku kumpulan cerpen tahun ini!

Daftar Bacaan

Tragedi Tiga Babak adalah buku Agatha Christie pilihanku untuk bulan Februari 2021. Aku menyelesaikan buku ini pada tanggal 2 Maret setelah nekat mulai membaca di penghujung Februari (can’t really read this in one-sitting apparently). Kasus yang harus dipecahkan Poirot dalam buku ini begitu dramatis & scandalous. It’s my type of drama. Meskipun berpotensi menjadi buku favorit Agatha Christie-ku selanjutnya setelah And Then There Were None dan Death on The Nile, ada beberapa aspek dalam Tragedi Tiga Babak yang membuatku tidak nyaman. Aku menjelaskan ini lebih lanjut dalam ulasanku di The StoryGraph.

Tiga cerita awal dalam kumpulan cerpen horor karya Intan Paramaditha ini sejujurnya tidak terlalu berkesan buatku. Akan tetapi, cerita-cerita setelahnya tidak mengecewakan. Setelah pertama kali membaca tulisan beliau dalam kumcer Kumpulan Budak Setan (ditulis bersama Eka Kurniawan & Ugoran Prasad), aku tidak terlalu kaget dengan gaya penulisan dalam kumcer ini yang memang bisa menjurus ke brutal.
 
Dalam 11 cerpen ini, kita akan membaca berbagai cerita tentang perjuangan dan duka hidup perempuan. Cerita perjuangan ini dibungkus dengan medium dongeng/ folklore/ urban legend yang dituturkan kembali. Hasilnya adalah cerpen horor yang surreal & penuh simbolisme. Sihir Perempuan juga mengingatkanku pada kumcer horor karya penulis perempuan Argentina, Mariana Enriquez, yang sempat aku baca bulan Oktober lalu bertajuk Things We Lost in The Fire. Kalau menyukai salah satu buku ini, sepertinya buku yang lain akan cocok dengan selera bacaanmu.

Aku membaca buku ini gratis melalui iPusnas.

Aku punya harapan tinggi ketika memulai buku kumpulan esai ini pada akhir Januari lalu. Sayang sekali, meskipun menawarkan argumen menarik, gaya penulisan Jia Tolentino yang panjang dan berputar-putar membuat esai dalam Trick Mirror begitu sulit untuk diikuti (pendapatku selengkapnya bisa dibaca di The StoryGraph). Aku akhirnya menyelesaikan buku ini dalam rentang waktu 2 bulan karena meskipun segan membaca gaya tulisan semacam ini, aku tetap kepo dengan argumen yang penulis gagas. Secara keseluruhan, bukan pengalaman baca menyenangkan.

Terima kasih pada kiriman Tumblr ini, aku akhirnya bisa bersenang-senang sambil mencoba genre baru. Aku sebenarnya sudah melirik buku-buku alternate history sejak lama, namun baru buku inilah yang membuatku “Oke, aku ingin langsung membaca buku ini sekarang.” Mungkin karena premis River of Teeth yang seolah terinspirasi dari crack fanfiction juga ya.

Secara keseluruhan audiobook 4 jam ini adalah bacaan cepat & oke. Aku sebenarnya bukan penggemar narator audiobook ini, but it’s not bad by any means & I have a good time. Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan seri novella ini karena meskipun bersenang-senang membaca ceritanya, aku tidak terlalu peduli dengan para karakternya. Jadi, aku tidak terlalu tertarik dengan kelanjutan kisah mereka. Kalau kamu penyuka kisah-kisah western, sepertinya River of Teeth berpotensi menjadi bacaan menarik untukmu.


Kadang kita menemukan buku yang dari gaya penulisannya, kita akan tahu bahwa si penulis mencurahkan segenap jiwa, raga, dan emosinya dalam proses penulisan. Menurutku Kitchen adalah salah satu buku jenis ini. Ada sesuatu yang begitu melankolik & emosional tentang buku yang terbilang singkat ini. Sampai-sampai aku harus break beberapa kali sebelum selesai membacanya dalam 4 sesi.

Meskipun menjadikan duka sebagai inti utama cerita, Kitchen bukanlah bacaan yang membuat kita merasa hopeless atau tak berdaya. Sebaliknya, ada sesuatu yang hopeful tentang bagaimana buku ini berakhir. Aku juga sempat menulis ulasan emosional langsung setelah menamatkan bukunya. Kalau sedang mencari bacaan penuh refleksi tentang duka, buku karya Banana Yoshimoto ini bisa menjadi pilihan untukmu.

AKA salah satu BOTM (Book of The Month) untuk klub buku The Diversitea pada bulan Maret. Aku mulai membaca Rainbirds dengan pengetahuan seminimal mungkin. Meskipun bisa melihat daya tarik dari cerita ini, Rainbirds sepertinya bukan buku untukku. Dari segi plot, bukunya tidak menjaga rasa penasaranku cukup lama sehingga aku bisa menikmati cerita. Kalau bicara karakter sendiri, sebagian besar dari mereka begitu menyebalkan di mataku sehingga aku kesulitan untuk bersimpati. Begitulah, aku akhirnya tidak menyematkan rating apa-apa untuk buku satu ini.

Aku membaca buku ini gratis melalui iPusnas


Novel kontemporer satu ini adalah tipe novel yang bisa nyaman menempati beberapa kategori genre. Bukan hanya merupakan buku romance, Honey Girl juga adalah buku coming-of-age dengan protagonis di usia 20-an. Tanpa dibatasi genre, kisah yang fokus pada usaha Grace Porter untuk menemukan arah hidup pasca lulus dari program PhD ini adalah kisah tentang burn-out, trauma, hubungan rumit antara orang tua/anak, dan pertemanan (dan konteks ini queer friendship).

Tema mental health juga menjadi topik penting yang dibicarakan dalam audiobook 10 jam ini. Setelah membaca buku biasa-biasa saja sepanjang bulan, novel ini adalah salah satu bacaan berkesan yang aku temukan di bulan Maret. Aku akan merekomendasikan Honey Girl untuk pembaca yang mencari novel kontemporer dengan gaya tulisan mengena & membahas suka-duka menjadi manusia di usia 20-an. 


Kalau kamu sepertiku dan bingung ingin membaca novel ini dulu atau menonton film adaptasi tahun 2018 saja, rekomendasiku pilihlah novelnya. Kalau tidak menonton versi adaptasi film ini terlebih dahulu, boleh jadi Pembunuhan di Orient Express akan masuk dalam tiga besar novel Agatha Christie favoritku. That ending is so good! 

Ini adalah tipe novel yang akan semakin berkesan kalau kita tidak tahu apa-apa sebelum mulai membacanya. Ulasan (yang sedikit menyinggung spoiler) juga sempat aku tulis di The StoryGraph.

Aku sudah melirik memoar karya Carmen Maria Machado ini sejak tahun lalu setelah mendengar pujian tidak henti dari berbagai pembaca yang sudah menyelesaikan bukunya. They aren’t wrong. Ditulis dengan indah & jujur, In the Dream House membahas topik sulit dan penting dengan gaya penyampaian eksperimental. Gaya penyampaian tidak biasa ini (menggunakan narrative trope seperti choose-your-own-adventure misalnya) membuat apa yang ingin penulis sampaikan terasa lebih mengena.

Teks/narasi tentang dinamika abusif dalam queer relationship belum terlalu banyak ditulis & Machado berusaha untuk terbuka tentang pengalaman yang dialami dalam memoar In the Dream House ini. Memoar ini bukanlah bacaan mudah. Akan tetapi, setelah kau tenggelam dalam tulisan Machado kau tidak akan bisa berpaling lagi (sebuah bukti: aku membaca ini dalam sekali duduk).  

Aku membaca e-book ini melalui Scribd | Kamu juga bisa menggunakan link referral-ku untuk mencoba Scribd.

>>>

Bagaimana denganmu? Apa menemukan bacaan favorit baru di bulan Maret? 

Let me know in the comment! 

Apa kamu melihat buku menarik di antara daftar bacaanku juga? πŸ‘€

Terhibur/terbantu dengan tulisan ini? Dukung Farah melalui Karyakarsa

Farah melacak bacaannya di situs buku alternatif  The Storygraph | farbooksventure di The StoryGraph

Ingin tanya-tanya & tetap anonim? Kirim saja pertanyaanmu lewat Curious Cat

Share:

12 komentar :

  1. Yay! Akhirnya ada beberapa buku dari list Kak Farah yang pernah aku baca 🀣. Pendapat kita tentang Rainbirds malah berkebalikan Kak 🀣 Aku cukup suka Rainbirds, namun kalau dibanding dengan Miwako, rasanya The Perfect World of Miwako Sumida itu lebih bagus sih hahaha. Terus, aku setuju untuk Murder in The Orient Express, lebih baik baca bukunya dulu karena bukunya jauh lebih keren dan endingnya berbeda dari yang di film πŸ˜‚. Aku tentu jauh lebih suka sama bukunya dan buku ini adalah buku Agatha Christie pertama yang membuatku jatuh cinta dengan karya-karyanya πŸ™ˆ
    Bulan Maret kemarin, jumlah buku bacaan yang aku baca, lebih sedikit jika dibanding Kak Farah. Tapi salah satu buku yang berkesan adalah Cantik Itu Luka 😁. Apa Kak Farah udah pernah baca buku ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau aku buku pertama AC yang begitu berkesan And Then There Were None, Lia :D Novel yang satu itu twist-nya jempolan sih. Apalagi kalau mempertimbangkan twist semacam itu belum umum dalam cerita di tahun ketika novelnya rilis.

      Cantik Itu Luka sendiri novel Eka Kurniawan pertama yang pernah aku baca ^^ Kalau tidak salah aku baca sekitar tahun 2016-2017. Berkat novel itu aku mulai baca buku-buku Eka Kurniawan yang lain juga. Aku suka banget buku kumpulan cerpen beliau (apalagi kumcer Cinta Tak Ada Mati). Kalau novel favorit sejauh ini Lelaki Harimau sepertinya.

      Apa Lia sudah baca buku lain dari Eka Kurniawan juga? Atau ini buku pertama?

      Hapus
    2. Setuju. And Then There Were None itu plot twistnya benar-benar bikin shock deh πŸ˜‚. Anyway, Kak Farah tahu film Radit yang judulnya Hangout? Itu konsep ceritanya mirip sama twistnya juga mirip sama buku AC yang ini. Sayangnya, aku lebih dulu nonton film Radit, baru kemudian baca buku AC jadi agak kurang berkesan karena ceritanya mirip sama film Hangout πŸ˜‚.

      Aku baru pertama kali baca buku Eka K. nih Kak πŸ˜†. Banyak yang bilang buku-buku lainnya juga bagus, tinggal nunggu mood bacaku aja sih 🀣

      Hapus
    3. Kita kebalik berarti Lia xD Aku baca novel Agatha Christie dulu baru nonton Hangout. Aku misuh-misuhnya waktu nonton Hangout malah karena ceritanya mirip banget sama And Then There Were None hehehe.

      Hapus
  2. Wohoo banyak juga buku yang mba Farah tamatkan di bulan Maret yaa, ehehe mood membaca memang tidak bisa ditebak.

    Hmm untuk genre Alternate history aku sendiri kayaknya gak pernah baca buku jenis ini mba, dan barusan cek di wiki definisi dari genre tsb. Aku sendiri gak kebayang akan seperti apa isi buku itu, kayaknya menarik untuk di telusuri lebih dalam πŸ‘€

    Bulan Maret ku sendiri, salah satu yang berkesan adalah bukunya Natsumi soseki^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, Reka. Tak disangka-sangka ternyata bisa baca lumayan banyak buku bulan kemarin. Reka baca novel Kokoro (Rahasia Hati) kah? Itu novel favoritku dari tahun 2017 <3

      Alternate history ini menarik (buatku setidaknya) karena kita membaca re-imagining seorang penulis tentang peristiwa sejarah tertentu sepertinya. Terus biasanya peristiwa sejarah yang dibayangkan kembali untuk dijadikan cerita itu ajaib-ajaib, Reka.

      Contohnya buku dalam daftar di atas aja terinspirasi dari peristiwa di akhir abad 19 ketika pemerintah US ada rencana ingin berternak kuda nil. Siapa sangka coba ini benar-benar hampir kejadian? hehe ^^

      Hapus
  3. Halo Farah! Salam kenal ya. Aku tiba-tiba tiba di postingan blog ini saat melihat update-an entri buku bacaan Farah di Goodreads. Menarik sekali buat wrap-up bulanan begini ya. Sudah beberapa waktu belakangan ingin bikin semacam ini juga untuk di blog bukuku sendiri, tapi belum kesampaian. Melihat postingan blog ini, aku jadi terpantik untuk melakukannya.

    Oh ya, bulan Maret lalu juga menjadi bulanku baca buku karya pengarang perempuan. Ada satu sih pengarang laki-laki tapi itu lanjutan dari yang bulan sebelumnya. Menarik ya bikin tema kecil-kecilan untuk bahan bacaan bulanan, semacam jadi tantangan tapi juga menyenangkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, Kak Raafi! Salam kenal juga :)

      Wrap-up bulanan sendiri memang cukup membantu untuk dokumentasi bacaan rutin. Kadang ada buku yang tidak ingin dibuat tulisan review khusus, jadi wrap-up bulanan bisa jadi wadah kita untuk meninggalkan komentar singkat saja.

      Tantangan baca kecil-kecilan memang lebih mudah tereksekusi ya, Kak. Beberapa tahun belakangan aku sempat coba tantangan baca besar seperti PopSugar Reading Challenge. Sayangnya kecepatan baca pribadi tidak sejalan dengan tuntunan tantangan baca ini. Akhirnya malah keteteran. Solusinya selain mencoba tantangan baca lebih kecil ya membuat tantangan baca sendiri. Lumayan juga untuk memunculkan variasi dalam hal bacaan, tapi dengan tuntutan tidak terlalu tinggi.

      Terima kasih karena sudah mampir, Kak Raafi ^^

      Hapus
  4. Yang sama dari list di atas itu Kitchen. Itupun masih belum aku ulas karena entah kenapa masih ingin membaca ulang.

    Jujur, aku masih belum bisa dengerin audiobook. Pernah coba yang Unfortunate Events, belum ada setengah jam aku malah ketiduran. Jadi, masih memilih ebook. Kalaupun dengerin audiobook biasanya disertai baca ebook atau bukunya juga.

    Karena itu, aku merasa kagum sama kak farah yang bisa tuntas dengerin audiobook dan terbilang rutin juga tiap bulan pasti ada audiobook yang didengarkan ya.

    By the way, kumenantikan lagi nih wrapup bulan April. Kira-kira baca apa lagi ya kak Farah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Audiobook memang relatif banget ya, Kak Ipeh. Beda pembaca, beda selera. Sangat tergantung pada narator yang membawakan cerita juga. Farah pun awalnya sering ketemu audiobook yang tidak cocok, Kak. Setelah sering coba-coba & menemukan yang sesuai selera, baru mulai menemukan ritme baca audiobook rutin. Lumayan juga ketika melakukan kerjaan rumah bisa sambil mendengar audiobook. Semoga Kak Ipeh segera menemukan audiobook yang cocok ya!

      Bulan April bacaan Farah gado-gado nih, Kak Ipeh hehe. Yang pasti ada buku Agatha Christie & buku penulis Jepang lagi bulan ini :D

      Hapus
  5. Wahh banyak sekali bacaannya bulan Maret kemarin, Farah. Banyak yang menarik, lagi. Aku lihat withcindy juga habis baca Honey Girl dan kalian berdua bilang bagus banget. Aku tertarik tapi takut ceritanya terlalu relate terutama soal kebingungan menentukan arah hidup takut jadinya malah sedih sendiri, hahaha.

    Btw aku juga lagi baca buku di iPusnas dan baru buku kedua yang aku baca di situ. Tapi aku membacanya cukup lama jadi harus pinjam ulang-pinjam ulang lagi. Aku juga masih kurang nyaman rasanya sama layoutnya. Aku juga bingung mencari buku bagus di iPusnas gimana, ya, karena aku yakin pasti banyak buku bagus, tapi yang di homepage-nya terlalu random jadi kita harus sudah tahu ingin mencari buku apa, tidak bisa mengandalkan yang direkomendasikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerita dalam Honey Girl memang relatable banget, Anindya. Meskipun sedih di beberapa bagian, aku mostly merasa senang sih karena merasa ada kawan senasib/sepenanggungan hehe.

      Aku juga bisa relate dengan pengalamanmu dalam menggunakan IPusnas. Memang masih banyak yang harus dipoles di aplikasinya. Aku biasanya mencari buku terbitan lama di sana (buku A.A. Navis misalnya). Kalaupun akhirnya baca, kita harus maklum dengan interface yang belum terlalu mulus.

      Aku akhirnya mengandalkan rekomendasi bacaan dari pembaca lain yang aktif memakai iPusnas sih karena searching di sana memang agak sulit. Sejauh ini selain buku A.A. Navis, aku juga ada rencana baca buku dari Okky Madasari, Intan Paramaditha, dan Agatha Christie yang lumayan banyak tersedia di sana ^^

      Hapus

Halo! Tidak perlu segan atau ragu kalau ingin meninggalkan komentar ya. Aku tidak pernah bosan mencari rekomendasi buku baru dan teman diskusi. Aktifkan notify me/beritahu saya supaya kamu tahu ketika komentarmu dibalas. Aku selalu senang ketika kita bercakap-cakap tentang buku dan kegiatan baca-membaca πŸ˜„

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes