Tentang Parade Hantu Siang Bolong Karya Titah AW

 

Terhampar di atas kain hijau yang bergelombang adalah buku nonfiksi karya Titah AW, Parade Hantu Siang Bolong

“Ia percaya bahwa jurnalisme yang bertutur sebagai cerita bisa jadi taktik memahami, bahkan hal paling absurd sedunia.”

Informasi Buku

Judul: Parade Hantu Siang Bolong
Penulis: Titah AW
Ilustrasi sampul: Sekar Bestari
Fotografer: Umarudin Wicaksono & Noe Prasetya
Penerbit: Warning Books
ISBN: 9786239330484
Tahun publikasi: 2020
Cetakan: pertama (September)
Jumlah halaman: 247 halaman
Buku: paperback milik pribadi
Bahasa: Indonesia
Baca detail buku ini di The Storygraph

Blurb Buku

Berisi 16 reportase jurnalistik-sastrawi, buku ini membahas peristiwa-peristiwa di seputar isu mitos dan lokalitas. Dua tema yang seolah berjarak, namun kenyataannya begitu lekat di keseharian. Dari puncak gunung Langgeran yang sunyi, hingga riuhnya pentas kesurupan massal di Banyumas. Dari perburuan pusaka leluhur, hingga konferensi alien tahunan. Dari tinder ala jawa, hingga teror klitih yang merajai jalanan malam Yogyakarta. Bagai parade, satu per satu tampil membentuk realitas yang kompleks dan kerap di luar nalar.

Pilihan Akses Buku

Aku membeli edisi paperback buku ini dari Buku Akik Bookshop di Tokopedia.

Menurut Farah Tentang Buku Ini

Parade Hantu Siang Bolong merupakan buku kumpulan reportase karya jurnalis independen Titah AW. Sebelumnya, versi sunting 16 reportase ini sudah tayang di situs VICE Indonesia dalam rentang waktu 2017-2020. Dalam Parade Hantu Siang Bolong, kita akan menemukan reportase ini dalam bentuk utuh (uncut). Alih-alih menggunakan gaya bahasa “steril” & to-the-point dalam menjabarkan laporannya, Titah AW menulis layaknya seorang penulis yang merangkai prosa untuk karya fiksi. Hasil akhirnya adalah tulisan informatif menarik yang tidak membosankan ketika dibaca.

Hal Yang Disukai

Berikut adalah kutipan dari kalimat penutup pada kolom identitas penulis di akhir buku:
“Ia percaya bahwa jurnalisme yang bertutur sebagai cerita bisa jadi taktik memahami, bahkan hal paling absurd sedunia.”
Dan aku setuju. Points are made, me thinks.

Gaya penulisan “nyastra” dalam Parade Hantu Siang Bolong membuat reportase jadi lebih menarik perhatian ketika dibaca. Pengalaman pribadi membuatku segan membaca reportase karena gaya bahasanya yang seringkali kaku & tidak engaging. Dua perasaan barusan tidak muncul ketika aku membaca tulisan dalam buku 247 halaman ini. Titah AW berhasil meniti jalan untuk membuat reportase yang memicu rasa penasaran, informatif, dan mudah diikuti.

Hal lain yang menjadi daya tarik buku adalah tema yang diusung dalam reportasenya. Tersebar dalam 16 tulisan, kita akan menemukan laporan tentang berbagai mitos dan tradisi lokal yang berkembang di Pulau Jawa. Perkara mitos dan lokalitas memang mulai mengusik rasa penasaranku selama satu tahun belakangan. Kenyataan bahwa masyarakat Indonesia masa kini dengan effortless hidup bersisian dengan mitos yang merupakan warisan dari nenek moyang terdahulu membuatku bertanya-tanya. Bagaimana dan kenapa?

Untuk pembaca yang tidak punya waktu luang banyak, reportase yang terbilang pendek juga bisa dibaca dalam waktu singkat. Ini juga cocok untuk pembaca dengan attention-span singkat (aka me, myself, & I). Gambar hitam-putih yang melengkapi setiap reportase juga sangat membantu pembaca memvisualisasikan apa yang baru saja dibaca.

Penampakan buku fisik Parade Hantu Siang Bolong (seperti detail dan daftar isi) bisa dilihat dalam cuitan di bawah ini:


Dari 16 tulisan yang ada, ada tiga reportase yang paling berkesan buatku:
  • Mengunjungi Kampung Pitu, Desa yang Hanya Bisa Dihuni Tujuh Keluarga di Puncak Langgeran
Kampung yang ternama karena hanya bisa ditinggali oleh tujuh keluarga (tidak kurang/tidak lebih) ini memang menarik untuk diulik sejarahnya dari awal berdiri. Tapi, poin yang sangat membekas dari tulisan ini buatku adalah bagaimana minimnya populasi anak muda di Kampung Pitu saat ini. Sekilas mengingatkanku pada video Ask A Mortician tentang desa Nagoro di Jepang.


Sebuah masalah modern tentang bagaimana orang hidup bersesak-sesak di kota setelah meninggalkan desa yang akhirnya kosong tak berpenghuni (pembangunan yang merata when?)
  • Sekolah Pagesangan Ajak Anak Gali Budaya Tani Subsisten di Lahan Gersang Gunung Kidul
Ketika berujar bahwa aku ingin membuat perubahan yang berarti dalam hidup, apa yang dilakukan pendiri Sekolah Pagesangan inilah yang aku maksud. Inisiatif yang dia gagas membantu berdirinya komunitas masyarakat yang berdaya and I think it’s neat.
  • Info Cegatan Jogja, Utopia Media Komunitas Itu Nyata
Boleh jadi merupakan reportase paling wholesome dalam buku Parade Hantu Siang Bolong. Aku sangat membutuhkan asupan positif semacam ini selama beberapa bulan terakhir. Tidak berlebihan kalau reportase ini ditutup dengan kalimat “Faith in humanity restored!”

Kalau tertarik baca, aku juga sudah mencantumkan link menuju versi sunting tiga reportase ini pada bagian Bacaan Lanjutan di akhir kiriman ini.

Hal Yang Tidak Terlalu Disukai

Layaknya buku kumpulan tulisan kebanyakan, beberapa tulisan dalam buku lebih menonjol & solid daripada tulisan lain. Hal ini sangat aku rasakan ketika aku membaca reportase kelima tentang Tim SAR, pencarian pendaki yang hilang, dan bantuan dukun. Dari 16 reportase yang ada, reportase inilah yang paling menggugah rasa ingin tahuku ketika membaca judulnya di daftar isi.

Sayang sekali aku merasa ada sesuatu yang kurang setelah membacanya. Reportase ini seperti berakhir tiba-tiba dan belum terasa utuh. Mungkin aku akan lebih menikmati reportase ini kalau ada data/laporan pembanding tentang petunjuk dukun yang memang berhasil membantu SAR menemukan pendaki yang hilang.

Aku Akan Merekomendasikan Buku Ini Untuk…

Pembaca yang tertarik pada buku nonfiksi karya penulis lokal, ingin membaca reportase menarik & tidak membosankan, dan ingin mencari tahu lebih lanjut tentang beragam mitos dan tradisi/budaya lokal di Pulau Jawa.

Rating

3,5/5

Catatan dari Diskusi Kebab Reading Club (Sabtu, 19/12/20)

Parade Hantu Siang Bolong adalah salah satu book-pick dari Kebab Reading Club di tahun 2020. Selama kurang lebih dua jam pada 19 Desember 2020, anggota book club berdiskusi langsung dengan si penulis, Titah AW tentang buku dan proses penulisan beliau. Berikut adalah beberapa poin menarik yang aku catat dari diskusi ini:
  • Aku bukan satu-satunya pembaca yang merasa bahwa beberapa tulisan dalam Parade Hantu Siang Bolong berakhir cukup tiba-tiba (terutama tulisan tentang Tim SAR). Titah AW pun mengamini pendapat ini. Beliau menjelaskan bagaimana ini disebabkan oleh singkatnya waktu liputan yang dia punya & keterbatasan yang muncul mengingat tulisan ini adalah tulisan untuk tujuan jurnalistik.
  • Seorang pengulas di Goodreads sempat menggarisbawahi betapa jawa-sentris buku ini. Dalam diskusi pun muncul banyak pertanyaan tentang apakah ada rencana untuk menulis tentang mitos & lokalitas di luar pulau Jawa. Titah AW dengan antusias menjawab bahwa tentu saja keinginan itu ada. Dia sedang memikirkan jalan untuk merealisasikan ini. Selanjutnya, Titah juga berbagi cerita tentang liputan yang sempat dia lakukan ke Pulau Sulawesi.
  • Hal lain yang memicu diskusi seru adalah foto yang menghiasi Parade Hantu Siang Bolong. Beberapa orang merasa bahwa penggunaan foto hitam-putih sudah efektif. Di sisi lain, ada  yang menyarankan agar foto yang disematkan menggunakan kertas glossy atau dibuat full-color. Diskusi pada akhirnya tentu membahas biaya produksi & harga buku yang akan naik kalau saran ini direalisasikan. Aku pribadi merasa penggunakan kertas glossy untuk foto hitam-putih adalah solusi ideal karena foto hitam-putih di kertas buku kadang susah untuk dinikmati karena penampakannya yang bisa agak buram. Aku sendiri tidak keberatan kalau ada kenaikan harga karena ini.
  • Trivia/fun-fact: Ketika liputan tentang Golek Garwo, Titah AW sempat dikira sebagai peserta oleh panitia acara. 
Semoga rencana untuk menulis tentang mitos & lokalitas di luar pulau Jawa segera terealisasi ya. Aku akan sangat tertarik untuk membaca ini. 

Bacaan Lanjutan


Terhibur/terbantu dengan tulisan ini? Dukung Farah melalui Karyakarsa

Farah melacak bacaannya di situs buku alternatif  The Storygraph | farbooksventure di The StoryGraph

Ingin tanya-tanya & tetap anonim? Kirim saja pertanyaanmu lewat Curious Cat

Share:

7 komentar :

  1. Bagus ni bukunya recommend

    BalasHapus
  2. Hi Farah, salam kenal :)
    Aku suka sekali dengan cara kamu mengulas karena cukup detil bagiku.
    Tulisanmu juga enak dibaca dan nggak kerasa tiba-tiba udah sampai di akhir tulisan πŸ˜‚
    Kebetulan memang aku ingin membaca buku ini, tapi masih ragu-ragu. Setelah membaca ulasan kamu, agak jadi lebih tertarik untuk membaca. Mungkin buku ini akan masuk list bacaanku tahun depan πŸ˜†
    Terima kasih atas ulasannya, Farah! What a nice writing πŸ˜‰

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal, Lia. Terima kasih sudah mampir 😊 Senang rasanya ketika mendengar bahwa ulasanku mudah dimengerti & membantu sesama pembaca. Semoga kamu suka ya ketika akhirnya ada kesempatan membaca buku ini. Tadi aku mampir ke blog-mu untuk membaca kiriman tentang Q&A buku. It's an interesting post to read! Rasanya ingin ikutan menulis Q&A juga πŸ˜„

      Hapus
    2. Ayo Farah ikutan bikin post tentang QnA buku juga 😁

      Hapus
  3. Mba Farah awalnya kukira buku ini adalah buku fiksi. Aku tertipu dengan covernya πŸ˜‚ yang ternyata nonfiksi. Makasih ya mba ulasan mba Farah selalu menarik, melihat dari segala sisi πŸ‘πŸ»

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampul buku yang semarak memang mengecoh ya, Reka πŸ˜ƒ Senang ketika tahu bahwa ulasan buku dariku bisa membantu.

      Hapus

Halo! Tidak perlu segan atau ragu kalau ingin meninggalkan komentar ya. Aku tidak pernah bosan mencari rekomendasi buku baru dan teman diskusi. Aktifkan notify me/beritahu saya supaya kamu tahu ketika komentarmu dibalas. Aku selalu senang ketika kita bercakap-cakap tentang buku dan kegiatan baca-membaca πŸ˜„

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes