[25/12/20] Pertanyaan/Jawaban Seputar Buku & Kegiatan Baca-Membaca

Some hard questions are answered & I’m suddenly contemplating about my journey as a reader

Tulisan ini terinspirasi oleh salah satu kiriman di blog haloreka. Pertanyaan-pertanyaan yang aku jawab dibuat oleh blogger dari Jane From the Blog & Words of the Dreamer dan dikumpulkan oleh My Big Mini World. Link menuju Q&A setiap blogger ini bisa ditemukan di bagian Bacaan Lanjutan di akhir tulisanku.

Selamat membaca perjalananku menjawab 30 pertanyaan & lebih mengenal diri sendiri sebagai pembaca!

1. Kalau beli buku, biasanya liat cover atau sinopsis di belakang buku tersebut?
90% melihat blurb (sinopsis di belakang buku). Ada kemungkinan 10% ketika sampul buku lebih menarik perhatianku. Tapi, pada akhirnya aku akan melihat blurb ketika memutuskan ingin beli atau tidak. Tidak bisa dipungkiri, ada kasus langka ketika aku membeli buku murni karena sampulnya & sungguh beruntung karena buku ini akhirnya menjadi salah satu buku favoritku. 

2. Adakah judul buku favorit kamu yang diadaptasi ke layar lebar? Do you prefer the movie or the book? Or both?
The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society! Buku yang pertama kali terbit hampir satu dekade lalu ini akhirnya diadaptasi menjadi film pada tahun 2018 dan didistribusikan oleh Netflix. Novel sumbernya sendiri termasuk dalam daftar TOP 11 Reads of 2019 versiku. Jadi, mungkin tidak mengejutkan kalau aku lebih menyukai novel daripada film adaptasinya. Hal yang aku sukai dari novel seperti format epistolary-nya & ~the wholesome book club vibe~, tidak terlalu terasa di film adaptasi yang akhirnya fokus pada romansa dua karakter ini.

3. Be honest! Kalau cuma boleh pilih di antara buku fisik dan e-book untuk dibaca seumur hidup, mana yang kamu pilih?
Kalau hitungannya seumur hidup tentu buku fisik. Kalau mengasumsikan aku hidup sampai > 65 tahun, mata yang sudah minus di usia muda ini sepertinya tidak akan kuat membaca e-book selama itu. It’s physical books all the way down, Folks.

4. Satu judul buku yang akan dibawa ketika harus diisolasi di sebuah pulau kosong (boleh yang udah pernah dibaca atau belum)
Aku akan membawa memoar Maybe You Should Talk To Someone yang baru aku tamatkan minggu lalu. Alasannya karena memoar ini tipe buku yang meskipun dibaca beberapa kali, pasti ada saja hal baru yang bisa dipetik. Selain itu, buku 432 halaman ini juga adalah buku yang cocok untuk dibaca ketika kamu melalui masa-masa sulit.

5. Quote favorit dari sebuah buku yang pernah dibaca
Tidak ada kutipan khusus yang langsung muncul di kepala. Jadi, aku akan berbagi salah satu kutipan yang aku tandai ketika membaca Maybe You Should Talk To Someone saja: 
“Sharing difficult truths might come with a cost --- the need to face them, but there’s also a reward: freedom. The truth releases us from shame.” 

6. What's your year-end book wishlist?
Honestly, I have none. Aku ada di titik dimana aku tidak terlalu tergesa-gesa untuk membeli buku. Kalau melihat daftar wishlist buku secara umum, aku sangat penasaran dengan antologi karya Bolu Babalola, Love in Colour: Mythical Tales from Around the World Retold.

7. Apakah kamu punya atau pernah baca buku yang penulisnya memiliki inisial sama dengan namamu?
Belum ada sampai tulisan ini ditulis di bulan Desember 2020.

8. Sebutkan masing-masing satu penulis favorit kamu dari Indonesia maupun luar negeri!
A.A. Navis dan Celeste Ng. Honorable mention cause I can't help myself: Oscar Wilde.

9. Menurutmu, bagaimana cara untuk mengatasi reading slump?
Jangan memaksakan diri untuk membaca ketika memang tidak ingin. Setelah rehat beberapa hari, coba mulai dari bacaan ringan seperti novel grafis atau kumpulan cerpen yang bisa dibaca cepat. Bisa juga memunculkan semangat dengan membaca buku old-favorite kalau kamu tipe pembaca yang tertarik untuk membaca buku lebih dari satu kali.

10. Gimana sih caranya untuk memulai membaca non-fiksi? Kok kayaknya susah+berat banget memulainya.
Kesan susah & berat sepertinya muncul karena nonfiksi yang kamu lihat itu tidak cocok denganmu. Coba cari nonfiksi yang cocok dengan seleramu sebagai seorang pembaca. Cara mencari? Tentu harus coba-coba. Setelah coba-coba beberapa tahun terakhir, aku mulai menyadari bahwa tipe nonfiksi yang aku dinikmati adalah memoar & buku catatan perjalanan. Jadi, jangan ragu untuk memulai & bereksperimen. You’ll get there eventually.

11. Apa buku terbaik yang pernah kamu baca di dalam tahun ini?
Nonfiksi: From Here to Eternity (Caitlin Doughty)
Fiksi: Serayu Malam dan kisah-kisah lainnya (Muhamad Wahyudi)

12. Pernah beli buku di toko buku indie? Gimana kesanmu setelah membeli dari toko buku indie?
Pernah! Vibe belanja di toko indie memang terasa lebih “dekat” daripada belanja di toko buku besar. Aku juga suka bagaimana toko-toko ini memberi bonus/pernak-pernik kecil seperti bookmark atau kartu ketika kita belanja di sana.

13. Kamu tim fiksi atau non-fiksi?
A healthy dose of both actually šŸ˜† Kalau ditanya tahun lalu, kemungkinan besar aku akan menjawab tim fiksi. Tapi, tren membaca pada tahun 2020 menunjukkan bahwa di masa depan ratio bacaku sepertinya akan mendekati 50% fiksi & 50% nonfiksi.

14. Apa buku yang pernah kamu baca tapi tidak sampai selesai? Kenapa?
Buku jenis ini ada banyak haha. Sampai tahun 2019, aku masih melabeli buku-buku ini “on-hold”. Di pertengahan 2020, aku akhirnya menerima bahwa aku tidak akan menamatkan sebagian besar buku berlabel on-hold ini & that’s okay. Di akhir hari, aku memang membaca untuk bersenang-senang. Akan ada buku yang gaya penulisannya tidak terlalu cocok denganku & buku yang tidak aku tamatkan karena sudah kehilangan minat. Aku tidak punya energi lagi untuk membaca buku yang tidak aku nikmati proses membacanya. Aku menggunakan mindset ini setelah satu buku yang tidak aku selesaikan (DNF) di tahun 2020 hampir membuatku mengalami reading slump berkepanjangan šŸ˜‚ 

15. Apa buku yang pernah kamu baca sampai berulang-ulang?
Aku sudah membaca Trilogi The Hunger Games šŸ”„ untuk kali ketiga di tahun 2020! Juga ada rencana untuk baca prequel-nya, tapi sepertinya baru akan terealisasi tahun depan.

16. Ada nggak tempat khusus untuk membaca?
Aku biasanya membaca di tempat tidur. Kalau tidak, aku akan mencari pojokan/kursi terdekat.

17. Buat nandain buku, lebih suka bookmark atau kertas random?
Aku menggunakan apa yang ada, tapi belakangan memang sudah rutin memakai bookmark karena entah bagaimana punya banyak :D

18. Kalau lagi baca terus pingin berhenti, berhentinya seketika itu atau nunggu dulu misal nunggu ganti bab atau nunggu halaman sekian dulu? Lebih suka baca skip-skip atau berurutan? Membaca seharian atau berhari-hari?
  • Buatku idealnya memang berhenti di akhir bab. Harus aku akui, ada momen ketika aku langsung berhenti di halaman itu karena bagian yang dibaca terlampau berat atau membuat kesal.
  • Aku tipe pembaca yang berurutan.
  • Tergantung buku yang dibaca! Ada buku yang asyik dibaca sekali duduk. Ada juga buku yang harus dibaca beberapa hari supaya tidak membuat pusing sendiri.
19. Cara menyisihkan waktu untuk membaca?
Kalau kamu tipe orang yang menyusun jadwal, bisa dimulai dengan memang menjadwalkan waktu khusus untuk membaca di to-do-list harian. Metode yang efektif buatku sendiri adalah membaca sebelum tidur di malam hari. Kalau membaca di pagi, aku suka lupa waktu & kesulitan untuk berhenti. Membaca di siang hari sendiri hanya bisa dilakukan di sela-sela waktu. Jadi malam memang waktu paling pas buatku. Masing-masing pembaca punya cara tersendiri & kita tahu mana yang paling cocok ketika sudah mencoba sendiri.

20. Waktu baca suka disambi ngemil atau minum nggak? Ada cemilan khusus atau minuman khusus buat nemenin baca?
Tidak ada. Kalau sudah keasyikan membaca, aku bisa sangat fokus ke buku & lupa dengan lingkungan sekitar. Kalau sudah seperti ini aku tidak akan ingat untuk ngemil atau minum. 

21. Baca bukunya sambil dengerin musik, suara TV, atau hening?
Aku lebih menikmati kegiatan baca-membaca di suasana hening.

22. Baca tanpa suara atau bersuara?
Tanpa suara. Kadang aku akan bersuara kalau mencoba memahami bagian buku yang agak rumit.

23. Suka nulisin buku nggak? Nandain quote-quote favorit?
  • Aku coba-coba menulis langsung di buku tahun ini and it’s nice! Walaupun begitu, aku masih lebih sering menulis di sticky note yang aku sematkan ke buku daripada menulis langsung di bukunya.
  • Ya! Aku gemar menandai kutipan yang aku suka. Sayang sekali, aku belum menemukan cara yang tepat untuk menyimpan kutipan-kutipan ini sehingga bisa lebih mudah dicari.
24. Biasanya lebih tertarik cover yang seperti apa? Ilustrasi simpel kah atau bagaimana?
Aku tertarik dengan sampul buku yang skema warnanya unik atau menarik mata. Sampul dengan design sederhana & skema warna cerah biasanya juga otomatis menangkap perhatianku. Beberapa buku yang aku suka sampulnya: Little Fires Everywhere, Less, & From Here to Eternity

25. Apakah pernah membanggakan sebuah buku lalu menceritakannya kepada mantan, eh pada teman maksudnya. Bahkan dengan cara terbaik agar dia tertarik untuk membaca buku yang kamu rekomendasikan. Terus apa bukunya?
Aku pernah melakukan ini untuk buku Ahmad Tohari, Mata yang Enak Dipandang. Si teman akhirnya ikutan membaca buku kumcer ini & menyukai banyak cerpen di dalamnya! It’s awesome moments all around.

26. Apakah pernah terjadi sesuatu hal yang sama terhadap kisah/cerita pada kehidupan nyatamu setelah beberapa banyak buku yang kamu baca?
Sejauh ini belum pernah. 

27. Dari sekian banyaknya buku yang pernah dibaca, adakah buku yang bergenre sci-fi kalau ada judulnya apa, pengarangnya siapa, lokal kah atau non lokal?
Aku hampir tidak pernah membaca buku sci-fi. I don’t have enough brain cells to process them most of the time. Tapi, aku akhirnya membaca buku sci-fi luar negeri, Axiom’s End, tahun ini karena penulis bukunya, Lindsay Ellis, adalah salah satu video essayist favoritku di Youtube. Aku berhasil membaca buku ini dalam sekali duduk pada bulan September lalu & tidak sabar menunggu buku keduanya yang akan terbit tahun depan.

28. Jika suatu saat kamu menulis buku fiksi, dimana lokasi cerita berada dan kenapa?
I don’t think I will ever write one, honestly. Aku benar-benar tidak punya jawaban untuk pertanyaan ini šŸ˜Œ

29. Siapa tokoh fiksi yang bisa membuat kalian kagum? (dilihat dari sifat/ kepribadiannya)
Lagi-lagi aku tidak punya jawaban untuk ini. I never look at fictional characters this way, I think. Kalau ini adalah pertanyaan yang wajib dijawab, aku sepertinya akan memilih Katnis Everdeen cause she gets things done.

30. Kamu baca fanfiction nggak? Kalau iya, biasa baca dalam bentuk buku fisik atau online (Wattpad, forum, dll)? Kalau nggak baca, alasannya kenapa?
Iya! Aku adalah pembaca setia FF sejak 2012. Dari era FF di Livejournal sampai ke AO3, membaca FF adalah kegiatan harianku. Jauh sebelum aku betah membaca e-book, aku sudah betah membaca FF secara daring melalui browser HP. Beberapa tahun terakhir, aku mencari asupan FF di AO3 (Archive of Our Own). Kebiasaan ini sangat membantuku dalam mengembangkan kemampuan bahasa Inggris. Ratusan FF yang aku baca selama delapan tahun terakhir sangat berjasa dalam membuatku nyaman ketika akhirnya mulai membaca buku-buku berbahasa Inggris.

Terima kasih karena sudah membaca kiriman ini sampai akhir!

Dalam proses menulis dan menjawab beragam pertanyaan ini, aku jadi merenungkan perubahan yang aku lalui sebagai pembaca dari tahun ke tahun. Siapa sangka ternyata tanya/jawab tentang buku bisa menjadi sarana refleksi diri secara tidak langsung.

>>>

Farah mendata buku yang dia baca dengan The Storygraph.

Bacaan Lanjutan

[Words of the Dreamer] JanexLia Answered.
[Words of the Dreamer] JanexLia Answered #2.
[Jane From the Blog] JanexLia Answered
[Jane From the Blog] JanexLia Answered #2
[My Big Mini World] QnA about Books and Reading
Share:

10 komentar :

  1. Pengalaman seputar buku sangat banyak ya kak, aku jadi tambah tahu walau aku gak ngelakonin nya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mayuf ^^ Beda pembaca, beda pula suka-dukanya.

      Hapus
  2. Setiap ada yang ada bikin QnA ini satu2 aku bacain buat tau tipe2 org baca. Dan semuanya beda banget! Kaget sih karena seberagam itu ya cara orang nikmatin buku šŸ˜†

    Satu2nya kesulitanku sekarang adalah menikmati buku nonfiksi. Pengen banget bisa baca 1 buku aja nonfiksi sampe tamat, apalagi yang self motivation kayaknya tuh diperlukan, tapi tetep aja baru baca beberapa halaman udah ngantuk parah šŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau buku self-help tidak cocok, kamu juga bisa cari motivasi diri lewat memoar lho, Tika (aku melakukan ini sih šŸ˜†). Saran/tips dari sebagian besar buku self-help memang rawan membuat bosan atau terkesan menggurui, menurutku. Kalau dalam memoar sendiri, kita membaca pengalaman & insights yang penulis bukunya dapat pasca melalui suatu hal. Setelah membaca kita bisa pilih-pilih nih insight mana yang pas untuk kita. Selain itu kita jadi termotivasi juga karena penulisnya sudah melalui berbagai hal tapi mereka tetap bisa bangkit & menjadi lebih sukses atau bahagia šŸ˜ƒ

      Kalau kamu suka mencari rekomendasi bacaan dari booktuber luar negeri, rekomendasiku coba intip daftar buku self-help yang dibaca oleh readwithcindy. Dia reviewer yang lumayan kritis & sering baca buku self-help yang praktikal. Aku sering terbantu dengan rekomendasi buku nonfiksi dari dia.

      Hapus
  3. Hai mba Farah! Akhirnya ikut bikin juga, senang sekali bisa baca jawaban yg beragam dari satu blogger ke blogger lainnya šŸ˜Š

    Dan omong2 aku setuju dengan jawaban mba Farah soal membaca buku nonfiksi, jangan ragu utk memulai dan berkeksperimen, ini sama dengan yg aku lakukan saat ingin menemukan genre baru dalam membaca, dan berhasil di aku hehehe. Sama kita mba, aku pun suka buku dengan sampul spt Little fires everywhere, gradasi warna yg cantik tapi gak mencolok.

    Anyway terima kasih udah di mentioned di blog mba Farah, stay safe ya mba abd happy holiday!~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga atas inspirasi kirimannya, Reka šŸ˜„ Semoga liburanmu menyenangkan ya!

      Hapus
  4. Seru dan menarik banget membaca jawaban-jawaban Kak Farah untuk QnA ini šŸ™ˆ sebab semua buku yang Kak Farah mention, semua judulnya asing untukku šŸ˜‚
    Perihal ilustrasi cover yang menarik, aku rasa kita mempunyai selera yang sama šŸ™ˆ sebab setelah aku lihat judul buku-buku yang Kakak mention, hampir semua buku aku suka sampulnya šŸ™ˆ

    Anyway, Kak Farah lebih banyak baca buku import fisik? Biasanya kalau beli buku import darimana? BD kah? Atau Kino dan P+?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pelanggan setia P+ untuk buku fisik terbitan luar negeri, Lia šŸ˜† Pengalaman belanjaku di sini selama 3 tahun terakhir selalu positif, jadi memang jarang melirik tempat lain. Merasa untung juga karena setiap belanja kita bisa dapat poin atau diskon ketika ulang tahun. Dari 2020 sampai seterusnya sepertinya aku cenderung membaca e-book/audiobook alih-alih buku fisik. Jadi, kemungkinan besar memang tidak terlalu rutin beli buku fisik lagi. Tapi, kalaupun beli tempat pertama yang aku intip ya P+ šŸ˜„ Kalau tidak ada di P+ aku biasanya coba ke OpenTrolley. Sayangnya harga buku di sini relatif lebih mahal daripada di P+.

      Hapus
  5. Halo kak Farah. Setelah hunting QNA tentang buku selain kak Endah, Lia, dan Jane, akhirnya sampe ke sini. Perspekktifnya menarik.

    Aa Navis memang keren. Awal masuk kuliah, saya dibuat kagum sama Robohnya Surau Kami. Salah satu cerpen favorit saya.

    Untuk urusan reading slump, saya pikir perlu memberi kesempatan kedua san ketiga pada buku tersebut. Mungkin saat membaca buku itu, preferensi dan referensi yang kita punya belum sampai pada tahap untuk menikmati buku tersebut. Saya mencoba untuk memberi jarak untuk memberi kesempatan berikutnya kepada buku tersebut. Memang tidak dapat dipungkiri, memaksakan juga bisa bikin kita jadi malas untuk baca dan akhirnya stuck. Beberapa orang melakukan cara baca dua buku itu mengakali hal tersebut, buku yang cenderung ringan dan bukunyang sedang ingin dibaca.

    Btw, salam kenal kak Farah. Senang bisa main ke sini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Rahul!

      Sampai tahun lalu aku memang masih memberi banyak buku kesempatan kedua. Ada kasus sesekali ketika buku yang awalnya kurang sreg, aku on-hold beberapa tahun, coba baca lagi, dan ternyata suka. Namun ya begitu, kasus semacam ini jarang & sebagian besar buku yang aku on-hold memang tidak cocok saja. Aku sekarang lebih memfokuskan energi pada buku yang aku suka & nikmati proses membacanya saja. Jadi memang tidak ragu lagi ketika melakukan DNF. Dulu aku sering merasa tidak enak meninggalkan buku karena sayang, tapi sekarang aku tidak punya energi sebanyak itu šŸ˜„

      Terima kasih ya karena sudah mampir.

      Hapus

Halo! Tidak perlu segan atau ragu kalau ingin meninggalkan komentar ya. Aku tidak pernah bosan mencari rekomendasi buku baru dan teman diskusi. Aktifkan notify me/beritahu saya supaya kamu tahu ketika komentarmu dibalas. Aku selalu senang ketika kita bercakap-cakap tentang buku dan kegiatan baca-membaca šŸ˜„

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes