Coming Home With Leila Chudori Ep.2: Tentang J.D. Salinger, Rasa Sepi, & Alienasi

https://www.instagram.com/p/B1tSnN8gzo2/

Kali pertama ketika karya J. D. Salinger terdengar begitu relatable di telinga awam Farah.

Podcast: Sebuah Medium Relaksasi Teranyar

Beberapa minggu terakhir, mendengar podcast adalah salah satu kegiatan menyenangkan yang aku biasakan setiap hari untuk berelaksasi. Sebagai seorang pembaca, tidak mengherankan memang kalau aku otomatis tertarik pada podcast dengan tema yang tidak jauh dari dunia perbukuan. Sebagai pendengar podcast awam, menemukan podcast yang cocok dengan selera memang bukan hal mudah. Entah karena aku saja yang belum terlalu pandai mencari atau memang karena sumber daya terbatas, aku merasa tidak begitu banyak pilihan tersedia untuk podcast sastra baik lokal maupun mancanegara. Melalui serangkaian trial and error, aku pun akhirnya menemukan beberapa podcast favorit. 

Untuk podcast berbahasa Inggris sendiri, Harry Potter and the Sacred Text adalah salah satu favoritku. Aku mengapresiasi bagaimana podcast ini mengeksplorasi setiap bab dalam novel Harry Potter lewat sudut pandang tertentu dalam episode-episode-nya (temukan ulasanku tentang ke-7 novel Harry Potter di sini). Aku akan bercerita lebih lanjut tentang podcast Harry Potter ini dalam kiriman lain. Kalau bicara podcast lokal, selama beberapa waktu aku masih kesulitan mencari podcast yang “klop” dan stimulating ala podcast Harry Potter yang aku sebut di atas. Penantian untuk podcast nan “klop” ini pun berakhir ketika aku tanpa sengaja menemukan Coming Home With Leila Chudori lewat Instagram…

Selayang Pandang Tentang Coming Home With Leila Chudori 

Coming Home With Leila Chudori merupakan podcast sastra yang dirilis atas kerja sama Gentle Media, Penerbit KPG, dan Leila Chudori. Episode pembuka dari podcast ini mengudara pada 20 Agustus 2019 & mengundang Mira Lesmana sebagai bintang tamu. Dalam episode pertama, pendengar akan disuguhkan dengan perbincangan seru antara Leila Chudori & Mira Lesmana tentang ciri khas & keunikan karya penulis Jepang, Haruki Murakami. Lebih lanjut lagi, Leila Chudori juga berbagi pendapat tentang bagaimana karya Murakami memiliki kesamaan tema dengan karya-karya Alice Ann Munro, penulis Kanada penerima Nobel Sastra 2013, yang sedang Beliau baca.

Sampai tulisan ini dirilis (Senin, 16 September 2019), Coming Home With Leila Chudori sudah merilis 4 episode. Podcast yang dijadwalkan rilis setiap hari Rabu ini diharapkan dapat memunculkan rasa penasaran dan membuat pendengarnya tergerak untuk ikut membaca buku yang telah dibahas dan disinggung oleh sang host dan para bintang tamu. Tujuan ini (sepertinya) sudah tercapai kalau menjadikan aku sebagai indikator penilaiannya. Jumlah buku yang ingin aku baca sudah bertambah secara signifikan pasca mendengarkan 4 episode podcast ini. Tapi, ada satu episode yang meninggalkan kesan dalam & menggerakkan tangan untuk mengetik kiriman yang sedang teman-teman baca ini.

J.D. Salinger, Rasa Sepi, & Alienasi Dalam Coming Home With Leila Chudori Episode 2

J.D. Salinger bukan tokoh yang asing lagi di telingaku. Nama beliau begitu familiar berkat novel The Cathcher in the Rye yang judulnya begitu menempel di otak, tapi mengundang tanya karena aku tidak yakin apa makna frasa ini. Tidak sekali-dua kali buku ikonik Salinger ini mampir ke radarku. Aku pikir rasa ragu dalam diri untuk membaca novel ini muncul berkat mixed review yang dilayangkan orang-orang. The Cathcher in the Rye ini sepertinya Exhibit A untuk buku yang you either love it or hate it, there is no in between.

Aku belum siap untuk “berjudi” dan membaca buku yang memunculkan pendapat yang terpolarisasi kuat semacam ini. Aku mulai merevisi pendapat ini setelah mendengar perbincangan penuh gairah Dian Sastrowardoyo & Leila Chudori tentang sosok J.D. Salinger yang misterius. Meskipun membuka pembicaraan lewat The Cathcher in the Rye, kedua wanita ini juga membahas karya lain Salinger & kesamaan motif/tema yang muncul di dalamnya; tentang rasa sepi dan perasaan terasingkan (alienasi). Perbincangan ini bermuara pada hipotesis tentang bagaimana karya-karya Salinger merupakan “gambaran” dari kepribadian sang penulis yang tidak biasa & sudut pandang Salinger yang merasa frustasi akan dunia dan tatanan sosial di dalamnya yang seringkali “phony/palsu”. Secara pribadi, diskusi tentang The Cathcher in the Rye-lah yang paling membekas di benakku.

Secara spesifik, aku sangat terkesan dengan keluwesan Dian Sastrowardoyo dalam menggambarkan impresi yang dia dapat dari tokoh protagonis dalam  The Cathcher in the Rye, Holden Caufield. Usaha Dian Sastrowardoyo untuk berempati dengan karakter Holden yang dipenuhi rasa marah dan frustasi membuatku mempertimbangkan sudut pandang baru tentang karakter ini. Dari beberapa ulasan The Cathcher in the Rye yang sempat aku baca, aku memang menangkap rasa frustasi sebagian besar pembaca akan narasi menggebu-gebu & kaya emosi ala novel ini. Setelah mendengarkan podcast ini, aku merasa cukup tahu & siap untuk menyelam dalam spiral emosi ala Holden. Latar belakang Dian Sastrowardoyo sebagai seorang aktris sendiri juga terasa lewat betapa ekspresifnya Beliau menyampaikan pendapatnya dalam episode kedua ini (Penulis merasa begitu terhanyut, terima kasih Mbak Dian.) 

Pada akhirnya, aku rasa episode ini terasa begitu berkesan karena aku seolah bisa “menemukan” diri sendiri di dalamnya. Aku sempat terkejut karena aku tidak menduga akan merasa se-related-ini dengan salah satu karakter dalam novel J.D. Salinger. Lewat deskripsi yang muncul dari perbincangan tentang karakter Holden, aku seolah dapat berempati dengan rasa frustasi dan amarah yang membakar remaja ini. Rasa frustasi dan amarah yang sepertinya berakar dari rasa sepi & perasaan terasingkan dalam lingkungan sosial. Frustasi karena sejauh mata memandang, dunia yang terlihat olehnya hanya dunia yang shallow dan terasa superficial.

Aku juga dapat berempati dengan Holden yang bisa marah sejadi-jadinya hanya karena hal yang terlihat sepele & sebenarnya tidak penting. Cause I have been there too. Kesadaran inilah yang membuatku tidak sabar ingin segera membaca The Cathcher in the Rye. I feel like I need this book now more than ever.

Aku sangat berterima kasih pada Coming Home With Leila Chudori yang telah merilis episode yang mencerahkan & melegakan ini. Ikuti podcast ini di Instagram & dengarkan via Spotify. 

 
(Salam hangat dari seorang penggemar yang menantikan Dian Sastrowardoyo untuk diundang kembali ke podcast ini.)     
Share:

1 komentar :

  1. sempet mikir-mikir mau dengerin podcast ini whether or not it's good, tapi akhirnya tertarik juga. membuka wawasan, dan nambah ilmu-ilmu kesusatraan juga.

    BalasHapus

Halo! Tidak perlu segan atau ragu kalau ingin meninggalkan komentar ya. Aku tidak pernah bosan mencari rekomendasi buku baru dan teman diskusi. Aktifkan notify me/beritahu saya supaya kamu tahu ketika komentarmu dibalas. Aku selalu senang ketika kita bercakap-cakap tentang buku dan kegiatan baca-membaca 😄

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes