[21/07/19] Tentang 21 Lessons for the 21st Century Karya Yuval Noah Harari

“A person can and should be loyal simultaneously to her family, her neighborhood, her profession, and her nation – why not add humankind and planet earth to that list? True, when you have multiple loyalties, conflicts are sometimes inevitable. But then who said life was simple? Deal with it.” – From Nationalism, Part 2: The Political Challenge.



Informasi Buku 
Judul: 21 Lessons for the 21st Century 
Penulis: Yuval Noah Harari 
Penerbit: Vintage Digital 
ISBN: 9781473554719 
Tahun publikasi: 2018
Jumlah halaman: 425 halaman 
Buku: dibaca via Bookmate 
Bahasa: Inggris 
Kategori umur: adult 
Temukan buku ini di Goodreads

Blurb
Sapiens showed us where we came from. Homo Deus looked to the future. 21 Lessons for the 21st Century explores the present.
How can we protect ourselves from nuclear war, ecological cataclysms and technological disruptions? What can we do about the epidemic of fake news or the threat of terrorism? What should we teach our children?
Yuval Noah Harari takes us on a thrilling journey through today’s most urgent issues. The golden thread running through his exhilarating new book is the challenge of maintaining our collective and individual focus in the face of constant and disorienting change. Are we still capable of understanding the world we have created? - Goodreads

Menurut Farah Tentang Buku Ini 
            Yoval Noah Harari memang bukan nama yang asing lagi di telinga. Buku karya Harari yang pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris pada tahun 2014, Sapiens: A Brief History of Human Kind, sampai saat ini pun masih saja sering berseliweran di komunitas dunia maya yang aku diikuti. Niatan untuk membaca buku ini (tentu) sudah ada sejak lama. Sama seperti nasib beragam buku lain yang tertangkap di radarku, Sapiens sudah masuk dalam antrian panjang buku wishlist yang ingin aku baca (suatu saat nanti). ‘Suatu saat nanti’ sendiri bisa jadi 2 jam lagi atau 5 tahun ke depan. >Fun fact; To Kill A Mockingbird harus menghabiskan waktu 5 tahun di timbunan buku sebelum akhirnya aku baca!<

            Ketika mengobrak-abrik Bookmate di awal Juli, buku ter-anyar dari Harari-lah yang akhirnya menjadi perkenalanku terhadap tulisan non-fiksi Beliau. 21 Lessons for the 21’st Century merupakan kumpulan 21 tulisan yang mengupas “pelajaran” apa saja yang dapat dipetik dari beragam peristiwa yang terjadi sejauh ini di abad 21. Dalam bagian introduction di awal buku, Harari menulis bahwa 21 Lessons for the 21’st Century ditulis berbarengan dengan percakapan langsung yang dia miliki dengan publik. Banyak bab dalam buku ini ditulis Harari sebagai respon atas pertanyaan yang diajukan pembaca, jurnalis, dan kolega Beliau. Tidak mengherankan memang kalau tema tulisan dalam buku 435 halaman ini cukup beragam.

             21 “pelajaran” dalam 21 Lessons for the 21’st Century dibagi ke dalam 5 bagian besar; 

Bagian 1: The Technological Challenge [I’m not a fan of this section]
Bagian 1 terdiri dari 4 tulisan dengan tema Disillusionment, Work, Liberty, dan Equality. Aku seolah membaca prediksi masa depan yang nighmarish dan full-blown-dystopian  pada bagian ini. Entah kenapa, di level personal teknologi AI (Artificial Intellegence) masih terasa begitu asing dan jauh dari jangkauan. Aku juga belum siap dengan masa depan dimana kita harus menyerahkan autonomi dalam pengambilan keputusan pada teknologi ciptaan manusia ini. Membaca bagian 1 seperti menyelam dalam semesta serial TV Black Mirror dimana teknologi sering kali mendatangkan sengsara alih-alih membantu. 

Bagian 2: The Political Challenge [This section “hit close to home”]
Tulisan pada bagian 2 dalam 21 Lessons for the 21’st Century ini terasa begitu relevan dengan kondisi politik luar/dalam negeri beberapa bulan terakhir. Terdiri dari 5 tulisan bertemakan Community, Civilization, Nationalism, Religion, dan Immigration – bagian ini juga merupakan bagian yang paling menantang buatku sebagai pembaca pemula isu sosial & politik global. Meskipun ditulis dalam Bahasa Inggris yang mudah dimengerti, tulisan-tulisan yang sarat akan muatan sosial dan politik ini tetap membuat otak bekerja keras untuk mencerna. Terlepas dari kesulitan yang aku temui, ada beragam pengetahuan yang aku petik dari bagian kedua ini. 

Bagian 3: Despair and Hope [My favorite section from this book!]
Dari 5 bagian dalam 21 Lessons for the 21’st Century, tulisan-tulisan di bagian ketigalah yang paling mengesankan untukku. Pembahasan tentang Terrorism, War, Humility, God, dan Secularism memang rawan memicu huru-hura. Oleh karena itu, aku mengapresiasi bagaimana Harari berusaha menulis topik-topik ini dengan cara senetral dan se-respectful mungkin. Dari 21 tulisan yang ada, Humility: You are not the centre of the world dan God: Don’t take the name of God in vain boleh jadi adalah tulisan terfavoritku dalam buku ini. I’ll revisit those articles again in the near future. Secara khusus, ada 2 kutipan yang begitu menohok dari tulisan God: Don’t take the name of God in vain;

“You want to wage war on your neighbours and steal their land? Leave God out of it, and find yourself some other excuse.”
“Perhaps the deeper meaning of this commandment is that we should never use the name of god to justify our political interests, our economic ambitions or our personal hatreds.”
Bagian 4: Truth [It’s another dystopian-esque section but feels instrospective somehow]
Prediksi masa depan (lagi-lagi) tidak terlihat cerah dalam 4 tulisan dengan tema Ignorance, Justice, Post-Truth, dan Science Fiction ini. Dalam Ignorance; You know less than you think, Harari seolah menyentil manusia yang (acap kali) terlampau percaya diri dengan pengetahuannya yang sebenarnya begitu terbatas. Ignorance berusaha memberi pertimbangan pada para pembacanya agar tidak lupa dengan batasan yang dimiliki diri sendiri. Ini adalah tulisan lain dari Harari yang akan aku kunjungi dari waktu ke waktu cause I really love a good roast.

Berikut adalah 3 kutipan lain dari tulisan bertajuk Justice & Post-Truth yang terdengar familiar tapi tetap saja menggelitik pemikiranku;

“Greatest crimes in modern history resulted not just from hatred and greed, but even more so from ignorance and indifference.” (Justice)
“Human have this remarkable ability to know and not to know at the same time. Or more correctly, they can know something when they really think about it , but most of the time they don’t think about it, so they don’t know it.”(Post-truth)

“One of the greatest fictions of all is to deny the complexity of the world, and think in absolute terms of pristine purity versus satanic evil.” (Post-truth)*

*Pembahasan tentang bagaimana tidak ada yang benar-benar hitam atau putih di dunia yang kompleks ini juga sudah muncul dalam ulasanku terhadap beberapa buku lain (1) (2)


Bagian 5: Resilience [This section is just lost in me] 
21 Lessons for the 21’st Century  ditutup dengan 3 tulisan bertema Education, Meaning, Meditation. Aku masih mampu mencerna Education dengan cukup lancar. Ketika pembahasan mulai berangkat ke ranah yang lebih filosofis dalam Meaning dan Meditation, otak ini pun akhirnya menyerah. Hal-hal berbau filosofis memang belum bisa menetap dengan tenang dalam pikiranku sampai tulisan ini ditulis. Mungkin aku bisa memahami tulisan ini beberapa tahun ke depan. Akan tetapi, untuk saat ini it just lost in me.


(GIPHY)

Sebagai pembaca first timer dari karya Yoval Nuah Harari, aku cukup puas dengan 21 Lessons for the 21’st Century. Sebuah ulasan lain yang aku lihat di Bookmate meng-klaim bahwa buku ini memang cocok untuk pembaca yang baru memperkenalkan dirinya dengan tulisan Harari. Ulasan ini juga menjelaskan bagaimana ide-ide dalam 21 Lessons for the 21’st Century sudah bukan barang baru lagi untuk pembaca yang sudah mengikuti 2 karya Harari sebelum ini; Sapiens dan Homo Deus. Aku belum bisa mengkonfirmasi klaim ini tentu saja. Akan tetapi, aku memang berencana untuk tetap membaca karya Harari yang lain setelah istirahat sejenak dari topik non-fiksi yang berat dan (harus aku akui) seringkali membawa prospek menakutkan ini.

Kalau kau ingin menambah pengetahuan dan menggali “makna lebih dalam” dari beragam peristiwa sosial/politik global terkini, 21 Lessons for the 21’st Century dapat menjadi salah satu pilihan bacaan untukmu.

Rating 
4/5

Artikel Lain Yang Disebut Dalam Tulisan Ini 
1. Far's Books Space - Tentang To Kill A Mockingbird 


Share:

Posting Komentar

Halo! Tidak perlu segan atau ragu kalau ingin meninggalkan komentar ya. Aku tidak pernah bosan mencari rekomendasi buku baru dan teman diskusi. Aktifkan notify me/beritahu saya supaya kamu tahu ketika komentarmu dibalas. Aku selalu senang ketika kita bercakap-cakap tentang buku dan kegiatan baca-membaca 😄

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes