Tentang The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society Karya Mary Ann Shaffer dan Annie Barrows

" The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society came into being because of a roast pig we had to keep secret from the German soldiers, so I feel a kinship to Mr Lamb."

Informasi Buku

Judul: The Guernsey Literary and Potato Peel Pie
Penulis: Mary Ann Shaffer, Annie Barrows
Penerbit: Bloomsbury Publishing
ISBN: 9781408803318
Bulan/tahun publikasi: 2019 (pertama kali dipublikasikan Juli 2008 dalam Bahasa Inggris)
Jumlah halaman: 256 halaman
Buku: ebook milik pribadi (dibeli lewat Google Play Book)
Bahasa: Inggris
Kategori umur: adult
Temukan buku ini di Goodreads

Blurb

The international bestseller, with a fresh new cover, perfect for summer reading. It's 1946 and author Juliet Ashton can't think what to write next. Out of the blue, she receives a letter from Dawsey Adams of Guernsey – by chance, he's acquired a book that once belonged to her – and, spurred on by their mutual love of reading, they begin a correspondence. When Dawsey reveals that he is a member of the Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society, her curiosity is piqued and it's not long before she begins to hear from other members. As letters fly back and forth with stories of life in Guernsey under the German Occupation, Juliet soon realizes that the society is every bit as extraordinary as its name.

Menurut Farah Tentang Buku Ini

Ketika mulai membaca The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society, mau tidak mau aku mulai memikirkan apa equivalen dari komunitas kecil pecinta literatur di Guernsey ini kalau dibawakan ke komunitas di era serba modern seperti sekarang... Bookstagram langsung muncul di benakku. 

Komunitas pecinta buku di Instagram (bookstagram) boleh jadi merupakan salah satu perwujudan dari literary society untuk masyarakat zaman sekarang yang tidak lagi terbatas oleh halangan geografis. Terima kasih juga pada komunitas global ini, aku pun akhirnya bersinggungan dengan novel menarik yang mengisahkan tentang sepak terjang sebuah komunitas kecil pecinta literatur di tengah era Kependudukan Jerman pada Perang Dunia II.

Aku sebenarnya pertama kali mengenal The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society lewat versi film adaptasi-nya yang dirilis oleh Netflix pada tahun 2018 lalu. Seorang teman di bookstagram sangat menyukai film yang menurutnya begitu "hangat" dan cocok bagi para pecinta buku ini. Dilanda rasa penasaran, tanpa perlu ribet mencari (terima kasih internet!) aku pun akhirnya tahu bahwa film ini diadaptasi dari sebuah novel yang sudah terbit hampir satu dekade lalu. Aku baru sadar bahwa ada banyak sekali novel/komik yang diadaptasi menjadi film/serial TV akhir-akhir ini. Is it always like this? Do films/TV series nowadays is always an adaptation or some-sort?

Sedang tidak berada dalam mood untuk nonton film waktu itu, aku pun menyaksikan film adaptasi The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society ini dengan setengah hati. Jujur saja, aku memang melewatkan begitu banyak hal dari film bersangkutan. Akan tetapi, aku kurang lebih sudah bisa mengerti garis besar cerita dari film yang lebih menonjolkan sisi romantis ini dan mengambil jalur narasi cerita yang lumayan klise, ini bukan hal yang buruk tentu. The film is okay. But, the book is way so much more than the film in a sense that it's more focus on the power of books and reading rather than the romance aspect of the story.

Berbeda dari versi film yang lebih menyorot sisi romantis cerita, versi novel dari film ini hanya menjadikan unsur romantis sebagai pemanis dan pelengkap cerita saja. Di satu sisi, novel The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society berusaha menggambarkan keadaan di Pulau Guernsey di era sebelum/selama/sesudah Kependudukan Jerman di pulau tersebut. Sama seperti berbagai novel historical fiction lain yang mengambil latar cerita di Perang Dunia II, Mary Ann Shaffer berusaha memaparkan bagaimana perang mempengaruhi pulau kecil nan damai ini. Bagaimana perang membawa dampak menyedihkan bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Akan tetapi, novel 256 halaman ini tidak sekedar fokus pada sisi kelam dari perang.

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society didominasi oleh kisah tentang bagaimana kegiatan baca-membaca memiliki arti yang dalam untuk berbagai karakter dalam novelnya. Juliet Ashton adalah protagonis dalam cerita ini. Perang baru saja berakhir dan Juliet tengah menikmati kesuksesan moderatnya sebagai penulis dengan nama pena Izzy Bickerstaff. Di usia 32 tahun, Juliet mulai mempertanyakan apakah ada yang salah dari dirinya karena tidak kunjung menemukan pasangan yang cocok.  Hidupnya yang berkecukupan pun mulai terasa menyesakkan. Juliet yang tidak ingin menulis menggunakan nama pena lagi juga cukup kesulitan memunculkan ide untuk buku baru. Ketika sebuah surat datang dari Guernsey, Juliet pun berkenalan dengan komunitas bernama tidak biasa The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society. Siapa sangka ternyata surat ini menjadi jawaban bagi kegalauan Juliet?

Menggunakan format narasi dengan perantara berbagai surat antara satu karakter dan karakter lain, novel ini mengajak pembaca mengikuti perjalanan Juliet untuk mengenal orang-orang unik dengan beragam cerita dan latar belakang di komunitas literatur Guernsey. The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society memang sepenuhnya ditulis dalam bentuk kumpulan surat-surat. Terkadang narasi akan diselingi oleh beberapa telegram dan catatan harian/diari satu karakter menjelang akhir cerita. Aku sangat suka bagaimana cara penulisan seperti ini membuatku menerka-nerka watak berbagai karakter dari cara karakter tersebut menulis surat-suratnya. Aku juga bisa menilai sedekat apa satu karakter dengan karakter lain lewat cara mereka bertukar surat dan hal apa saja yang mereka ceritakan dalam surat mereka.  Rasa senang membaca novel ini 11 12 memang dengan rasa senangku ketika menonton film Searching yang penceritaannya didominasi oleh interface dari chat/media sosail/email/atau situs internet secara umum.  

Selain format penceritaan unik, aku juga menyukai The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society karena sang penulis benar-benar tahu apa yang dia tulis. Aku bisa merasakan bahwa sang penulis novel juga merupakan seseorang yang gemar sekali membaca lewat observasi kecil yang dia dibuat dan masukkan dalam cerita tentang pembaca dan dunia baca-membaca secara umum. Contohnya adalah kalimat seperti ini;
"That's what I love about reading: one tiny thing will interest you in a book, and that tiny thing will lead you on to another book, and another bit there will lead you on to a third book. It's geometrically progressive - all with no end in sight, and for no other reason than sheer enjoyment" - Page 20.
Juga ini;
"It was amazing to me then, and still is, that so many people who wander into bookshops don't really know what they're after - they only want to look round in the hope of seeing a book that will take their fancy." - Page 25.
That sentences above summarize the story of my life as a reader to be honest.

Bukan hanya sebatas menjadi bacaan relatable, novel ini juga ditulis dengan gaya jenaka (witty). Kalimat di bawah ini sesungguhnya akan lebih lucu kalau kau tahu konteks cerita sebelumnya, still... I hope you understand my point;
"They said they hadn't meant to bomb us; they mistook our tomato lorries on the pier for army trucks. How they came to think that strains the mind."
"It was just the thing; the writer assumes you know nothing about cookery and gives useful hints: 'When adding eggs, break the shells first.'"  
Gaya penulisan yang jenaka dan menitik-beratkan pada kekuatan dan harapan yang bisa diberikan oleh sebuah buku inilah yang membuatku jatuh hati pada novel ini. Tidak hanya memperoleh rekomendasi buku menarik di sepanjang cerita, pembaca juga akan menemukan cameo lucu dari salah satu tokoh literatur ternama dunia. Tidak berlebihan memang kalau berkata bahwa buku ini merupakan "surat cinta" untuk semua pembaca di luar sana. Mary Ann Shaffer and Annie Barrows are truly an awesome storyteller duo. Aku memang sempat pusing sendiri karena karakter dalam novelnya yang terbilang banyak. Akan tetapi, makin ke akhir kau akan semakin terbiasa dan menantikan "suara-suara" dari karakter-karakter ini.

Dalam acknowledgement di akhir buku, Mary Ann Shaffer menuliskan harapannya agar cerita ini bisa "shed some light on the sufferings and strength of the people of the Channel Islands during the German Occupation". Beliau juga berharap bahwa buku ini bisa menggambarkan bagaimana kecintaan pada seni (baik poetry, storytelling, painting, sculpture, atau music) membuat orang-orang mampu melalui berbagai batasan yang ada. Aku pribadi merasa bahwa harapan Mary Ann Shaffer ini sudah terwujud lewat The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society.  

Thank you so much for such a lovely work Ms. Mary (and Ms. Annie!)

Akhir kata, aku akan merekomendasikan The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society untuk semua pembaca dan pecinta buku di luar sana. 
"We read books, talked books, argued over books, and became dearer and dearer to one another. Other Islanders asked to join us, and our evenings together became bright, lively times - we could almost forget , now and then, the darkness outside. We still meet every fortnight." - Page 73

Rating

5/5

Tulisan Lain Dalam Kiriman Ini/Bacaan Lanjutan

1. Wikipedia - Epistolary Novel

Terhibur/terbantu dengan tulisan ini? Dukung Farah melalui Karyakarsa

Farah melacak bacaannya di situs buku alternatif  The Storygraph | farbooksventure di The StoryGraph

Ingin tanya-tanya & tetap anonim? Kirim saja pertanyaanmu lewat Curious Cat

Share:

2 komentar :

  1. saya juga suka banget baca buku ini. dulu baca pas kuliah, pinjem punya perpus kampus. tapi belum tertarik menonton filmnya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak! Bahagia bawaannya baca buku ini hehe. Bukan snobbish atau gimana-gimana ya, tapi untuk yang satu ini Farah rasa versi buku memang jauh lebih nendang daripada versi film adaptasinya. Versi film dari buku ini terlalu diromantisasi sayangnya :) Padahal yang membuat bukunya asyik ya semua hal berkaitan dengan buku dan komunitas pembaca di dalamnya...

      Hapus

Halo! Tidak perlu segan atau ragu kalau ingin meninggalkan komentar ya. Aku tidak pernah bosan mencari rekomendasi buku baru dan teman diskusi. Aktifkan notify me/beritahu saya supaya kamu tahu ketika komentarmu dibalas. Aku selalu senang ketika kita bercakap-cakap tentang buku dan kegiatan baca-membaca 😄

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes