[01/03/19] Tentang The Ocean At The End of The Lane Karya Neil Gaiman

https://www.instagram.com/p/Buc9q8UA2bV/

"You don't pass or fail at being a person, dear."

Informasi Buku 
Judul: The Ocean At The End of The Lane 
Penulis: Neil Gaiman 
Penerbit: Morrow Fiction
ISBN: 9780062459367
Tahun publikasi: 2016 (pertama kali dipublikasikan tahun 2013)
Jumlah halaman: 241 halaman
Buku: milik pribadi
Bahasa: Inggris
Kategori umur: adult 
Temukan buku ini di Goodreads

Blurb

UK National Book Awards 2013 "Book of the Year"

“Fantasy of the very best.” Wall Street Journal

A middle-aged man returns to his childhood home to attend a funeral. Although the house he lived in is long gone, he is drawn to the farm at the end of the road, where, when he was seven, he encountered a most remarkable girl, Lettie Hempstock, and her mother and grandmother. He hasn’t thought of Lettie in decades, and yet as he sits by the pond (a pond that she’d claimed was an ocean) behind the ramshackle old farmhouse where she once lived, the unremembered past comes flooding back. And it is a past too strange, too frightening, too dangerous to have happened to anyone, let alone a small boy.

A groundbreaking work as delicate as a butterfly’s wing and as menacing as a knife in the dark, The Ocean at the End of the Lane is told with a rare understanding of all that makes us human, and shows the power of stories to reveal and shelter us from the darkness inside and out.

“[Gaiman’s] mind is a dark fathomless ocean, and every time I sink into it, this world fades, replaced by one far more terrible and beautiful in which I will happily drown.” New York Times Book Review

 

Menurut Farah Tentang Buku Ini 
Aku baru benar-benar penasaran dengan karya-karya Neil Gaiman ketika American Gods diadaptasi menjadi serial TV. Meskipun sudah memiliki novelnya, aku belum juga selesai membacanya hingga saat ini. Beberapa bulan berselang aku kembali mendengar karya Gaiman diadaptasi ke medium lain. Kali ini ke dalam bentuk film. Meskipun bertajuk How to Talk to Girls at Parties, sayang sekali kita tidak akan menemukan tutorial jitu agar dapat menghindari momen canggung di pesta dalam film yang diadaptasi dari cerpen tahun 2006 karya Gaiman ini. Cerpen inilah karya pertama Neil Gaiman yang benar-benar aku baca sampai tuntas. Tanggapanku setelah membacanya? Aku dikuasai rasa bingung. Aku tidak yakin apalah aku menyukai atau malah membenci cerpen ini. Bagi yang penasaran & ingin membaca cerpen "ajaib" ini, silakan mampir ke laman di situs resmi Neil Gaiman.

Hal yang berusaha Gaiman ungkapkan dalam How to Talk to Girls at Parties terasa terlalu surreal dan absurd sehingga tidak mampu dicerna pemikiranku. Aku merasakan hal sama setelah membaca cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma. Mungkin pengetahuanku belum sedalam itu agar bisa mencerna cerpen surreal semacam ini ya? Ketika akhirnya membaca The Ocean At The End of The Lane, aku pikir sedikit banyaknya aku pun mulai mengerti kenapa Neil Gaiman diperhitungkan sebagai tokoh legendaris dalam dunia tulis-menulis, terutama tulis-menulis yang berkaitan dengan genre fantasi.

Aku sebenarnya sudah memiliki ekspektasi tersendiri ketika membaca judul dan melihat sampul depan novel 241 halaman ini. Ketika melihat judul novelnya, aku beranggapan bahwa kisah dalam The Ocean At The End of The Lane akan lumayan mellow dan sendu. Anggapanku ini makin diperkuat setelah melihat cover novel bersangkutan. I know... Ekspektasi semacam ini menggambarkan dengan jelas bagaimana butanya diriku dengan karya-karya Gaiman. Bahkan ada bagian kecil dalam pikiranku yang menduga bahwa novel ini akan menawarkan kisah romantis yang begitu menyedihkan. Ketika dengan polosnya berniat untuk membaca novel ini sebentar sebagai bacaan pengantar tidur, siapa sangka ternyata The Ocean At The End of The Lane malah membuatku terjaga sampai malam sudah larut.

Dikisahkan dari sudut pandang orang pertama, pembaca akan diajak mengikuti sebuah perjalanan kilas balik ketika sang narator cerita, seorang lelaki paruh baya, ketika kembali ke rumah masa kecilnya untuk menghadiri sebuah pemakaman. Berusaha mencari udara segar setelah menghadiri pemakaman yang menyesakkan, narator kita pun berkendara sampai akhirnya menyusuri jalan masa kecilnya. Ketika berhenti di sebuah peternakan di ujung jalan, perlahan memori masa kecil mulai bermunculan di benak lelaki paruh baya ini. Beberapa memori ini bahkan boleh dikatakan gelap untuk dialami seorang anak yang bahkan belum genap berusia 10 tahun. 

Garis antara fantasi dan realita sering kali kabur dalam novel 241 halaman ini. Pada akhirnya, ada banyak hal yang setiap orang bisa interpretasikan dari kisah kaya akan metafora ini. Secara keseluruhan, aku memandang kisah dalam The Ocean At The End of The Lane sebagai potret miris narator tentang masa kecilnya yang tidak terlalu ideal dan diisi dengan rasa sepi. "Samudera" di ujung jalan boleh jadi adalah simbolisme atau bentuk pelarian narator dari realita hidupnya yang hampa. Lumayan berat ya ketika membayangkan ini terjadi pada karakter anak-anak. Aku rasa aku akan kembali membaca buku ini lagi di masa depan. Ada terlalu banyak metafora yang aku lewatkan dalam kisahnya.

Kalau kau sudah membaca novel ini dan penasaran dengan analisis "komprehensif" tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam The Ocean At The End of The Lane, aku merekomendasikan tulisan dari situs Shmoop ini sebagai bahan bacaan untukmu.

Aku akan merekomendasikan The Ocean At The End of The Lane sebagai bacaan "perkenalan" bagi para pembaca yang ingin mulai mengenal karya fantasi jempolan dari Neil Gaiman.

Rating 
4/5


Share:

Posting Komentar

Halo! Tidak perlu segan atau ragu kalau ingin meninggalkan komentar ya. Aku tidak pernah bosan mencari rekomendasi buku baru dan teman diskusi. Aktifkan notify me/beritahu saya supaya kamu tahu ketika komentarmu dibalas. Aku selalu senang ketika kita bercakap-cakap tentang buku dan kegiatan baca-membaca 😄

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes