[21/10/17] Tentang All The Light We Cannot See Karya Anthony Doerr


So how, children, does the brain, which lives without a spark of light, build for us a world full of light?


Informasi Buku
Judul: All The Light We Cannot See
Penulis: Anthony Doerr 
Penerbit: Simon and Schuster 
Bahasa: Inggris
ISBN: 9781501122835
Tahun publikasi: 2014
Jumlah halaman: 531 halaman
Buku: milik pribadi 
Temukan buku ini di Goodreads

Blurb
Winner of the Pulitzer Prize From the highly acclaimed, multiple award-winning Anthony Doerr, the beautiful, stunningly ambitious instant New York Times bestseller about a blind French girl and a German boy whose paths collide in occupied France as both try to survive the devastation of World War II.
Marie-Laure lives with her father in Paris near the Museum of Natural History, where he works as the master of its thousands of locks. When she is six, Marie-Laure goes blind and her father builds a perfect miniature of their neighborhood so she can memorize it by touch and navigate her way home. When she is twelve, the Nazis occupy Paris and father and daughter flee to the walled citadel of Saint-Malo, where Marie-Laure’s reclusive great-uncle lives in a tall house by the sea. With them they carry what might be the museum’s most valuable and dangerous jewel.
In a mining town in Germany, the orphan Werner grows up with his younger sister, enchanted by a crude radio they find. Werner becomes an expert at building and fixing these crucial new instruments, a talent that wins him a place at a brutal academy for Hitler Youth, then a special assignment to track the resistance. More and more aware of the human cost of his intelligence, Werner travels through the heart of the war and, finally, into Saint-Malo, where his story and Marie-Laure’s converge.
Doerr’s “stunning sense of physical detail and gorgeous metaphors” (San Francisco Chronicle) are dazzling. Deftly interweaving the lives of Marie-Laure and Werner, he illuminates the ways, against all odds, people try to be good to one another. Ten years in the writing, a National Book Award finalist, All the Light We Cannot See is a magnificent, deeply moving novel from a writer “whose sentences never fail to thrill” (Los Angeles Times).

Menurut Farah Tentang Buku Ini

Wow, it's been awhile since I'm so taken aback by a book.
Ketika sebagian orang biasanya tanpa sengaja "menilai" buku dari cover-nya, dalam kasusku ini agak sedikit berbeda. Aku termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tanpa sadar "menilai" buku dari judulnya. Judul menarik dari buku ini, All The Light We Cannot See, membuatku akhirnya memutuskan untuk membaca bukunya. Sebagai tipe pembaca yang tidak terlalu sering membaca review orang lain terkait sebuah buku (I enjoy a little bit element of suprise while reading apparently), aku pada awalnya menyangka bahwa novel ini adalah sebuah novel romantis. I mean look at that title! Ternyata dugaanku ini bisa dikatakan cukup meleset (walaupun tidak sepenuhnya salah).

Novel ini romantis dalam pengertian non-konvensional. Romantisme dalam cerita antara Marie-Laure dan Werner Pfennig (setidaknya menurutku) tidak terbangun lewat kisah romansa tipikal yang melibat pertemuan dramatis tidak terduga atau jatuh cinta pada pandangan pertama atau ending cerita yang bahagia selamanya. Tema besar dari All The Light We Cannot See adalah tentang bagaimana perang memunculkan tragedi dalam kehidupan orang-orang yang terjebak di antaranya. Kedua karakter dalam novel ini secara tidak langsung sudah terhubung melalui hal yang tidak mereka sangka-sangka jauh sebelum perang menjungkir-balikkan hidup mereka. Aku pikir aku merasakan hawa romantis lewat pertemuan singkat tapi sarat makna dari mereka. Tentang bagaimana Marie-Laure dan Werner Pfennig yang ada dalam dua sisi berbeda ketika perang menyelamatkan satu sama lain dengan mengikuti pilihan yang mereka anggap benar.

 This book bittersweet on so many levels

Lewat kisah dalam buku ini, kita akan melihat bagaimana keputusan kecil yang kita buat cepat atau lambat akan membuat pengaruh besar dalam kehidupan kita. Tidak peduli besar atau kecil, hal yang kita lakukan pasti akan meninggalkan pengaruh/perbedaan meskipun kita tidak menyadarinya. Buku ini menyampaikan pesan bahwa bagaimanapun juga diri kita dan kemauan kita sendirilah yang akan menentukan kehidupan yang akan kita jalani selanjutnya, bukan orang lain atau lingkungan kita.

All The Light We Cannot See sebagai besar mengambil latar tempat di Saint Malo, Perancis. Buku ini dibagi ke dalam 13 bagian. Dalam masing-masing bagian kita akan disuguhkan cerita singkat yang tidak terlalu panjang (sekitar 3-4 halaman) dengan latar waktu yang selang-seling. Ceritanya sendiri dituturkan lewat alur maju mundur dalam rentang waktu 1934-1945 dan dalam penutup cerita yaitu bagian 12 dan 13 berlatar waktu di tahun 1974 dan 2014. Kisah dalam All The Light We Cannot See disampaikan lewat narasi yang indah. Tidak jarang, di beberapa bagian aku sempat terdiam dan termangu sendiri. Aku sempat heran bagaimana beberapa orang mampu menyusun kalimat sederhana menjadi sesuatu yang indah sekaligus penuh makna.

Dari berbagai karakter yang muncul dalam novel ini, ada 2 karakter yang sangat aku kagumi:
(1) Frederick
Frederick adalah teman satu-satu Werner di SchulpfortaAnak laki-laki yang satu ini sangat tergila-gila pada burung. Aku sangat mengagumi karakter Frederick karena wataknya yang berani dan teguh terhadap pendiriannya sendiri (walaupun apa yang akhirnya terjadi pada Frederick itu sangat tidak adil...) 
(2) Jutta Pfennig
Saudara perempuan yang lebih muda 2 tahun dari Werner. She's a strong independent woman. Jutta selalu memiliki keberanian dan kesabaran yang bahkan saudara laki-lakinya terlalu takut untuk tunjukkan. Seorang perempuan tangguh memang mudah untuk dikagumi bukan?

Novel ini adalah novel fiksi luar negeri bertemakan sejarah/perang pertamaku. Novel dengan tema sejarah/perang paling pertama yang pernah aku baca adalah novel dalam negeri, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Aku pada awalnya memang sempat khawatir akan cepat bosan dengan ceritanya. 300 halaman awal aku baca dengan agak terseok-seok tapi, halaman-halaman sesudahnya (yang merupakan halaman-halaman intens menurutku) aku selesaikan dengan cukup cepat. Riset yang dilakukan penulis untuk cerita ini sungguh patut diapresiasi. Berbagai simbol yang muncul sepanjang cerita seperti radio, kunci dan gembok, novel-novel Jules Verne... I love it

Kalau kau menggemari bacaan fiksi bertemakan sejarah yang disampaikan dengan narasi yang indah, sepertinya buku ini adalah buku yang cocok untukmu.

Rating
5/5 
Share:

2 komentar :

  1. Nice review, Farah :D
    masukin ke list kayaknya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you Rifani ^^
      Mudah-mudahan kalau akhirnya nanti udah baca buku ini kamu suka sama ceritanya ya :D

      Hapus

Halo! Tidak perlu segan atau ragu kalau ingin meninggalkan komentar ya. Aku tidak pernah bosan mencari rekomendasi buku baru dan teman diskusi. Aktifkan notify me/beritahu saya supaya kamu tahu ketika komentarmu dibalas. Aku selalu senang ketika kita bercakap-cakap tentang buku dan kegiatan baca-membaca 😄

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes